12 May 2022, 20:37 WIB

Tolak Penyelidikan Israel, Ribuan Warga Palestina Hormati Jurnalis yang Terbunuh


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Ahmad Gharabli.
 AFP/Ahmad Gharabli.
Orang-orang berkabung ketika tubuh jurnalis veteran Al-Jazeera Shireen Abu Akleh tiba di rumah sakit, lingkungan Sheikh Jarrah.

RIBUAN warga Palestina pada Kamis (12/5) menghormati jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh pada upacara peringatan di Tepi Barat yang diduduki, sehari setelah dia ditembak mati dalam serangan tentara Israel. Israel dan Palestina saling menyalahkan atas pembunuhan warga Palestina-Amerika Abu Akleh, 51, seorang veteran layanan media Arab yang berbasis di Qatar, selama bentrokan di kamp pengungsi Jenin.

Amerika Serikat, Uni Eropa, dan PBB mendukung seruan untuk penyelidikan penuh atas peristiwa yang disebut Al Jazeera sebagai pembunuhan yang disengaja dengan darah dingin. Namun Otoritas Palestina (PA) menolak mengadakan penyelidikan bersama dengan Israel.

Sebagai tanda status Abu Akleh di antara orang-orang Palestina, dia menerima yang digambarkan sebagai peringatan penuh kenegaraan di Istana Presiden Mahmud Abbas, Ramallah, yang dihadiri oleh diplomat asing, politisi Arab Israel terkemuka, dan para pemimpin senior Palestina. Ribuan orang berbaris di jalan-jalan saat peti matinya terbungkus bendera Palestina dibawa melalui kota Tepi Barat.

Yasser Arafat

Banyak yang memegang bunga, karangan bunga, dan gambar Abu Akleh, yang dipuji secara luas karena keberanian dan profesionalismenya serta dikenal oleh khalayak Arab sejak ia meliput berita intifada kedua Palestina dari 2000 hingga 2005. "Kejahatan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja," kata Abbas.

Dia menekankan bahwa PA menganggap Israel bertanggung jawab penuh atas kematiannya dan menolak proposal Israel untuk penyelidikan bersama. Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengatakan pada Rabu bahwa kemungkinan Abu Akleh terbunuh oleh tembakan nyasar Palestina tetapi Menteri Pertahanan Benny Gantz kemudian mengakui bahwa itu bisa saja orang-orang Palestina yang menembaknya atau dari, "Pihak kita." 

"Kami tidak yakin bagaimana dia dibunuh," kata Gantz kepada wartawan. "Kami sedang menyelidiki."

Terbungkus syal Palestina di bawah sinar matahari pagi, Tariq Ahmed, 45, menggambarkan kematian itu sebagai tragedi bagi seluruh bangsa. Ia membandingkan kesedihannya dengan yang dia rasakan pada pemakaman pemimpin ikonik Palestina Yasser Arafat. "Saya tidak merasakan sakit ini sejak Arafat meninggal," kata Ahmed.

Penyelidikan Palestina 

Saat peti mati Abu Akleh dibawa keluar dari kompleks kepresidenan dengan iringan musik marching band, massa meneriakkan slogan-slogan menuntut dan mengakhiri kerja sama keamanan Palestina dengan Israel. Orang-orang berlari di samping ambulans saat melaju ke pos pemeriksaan antara Ramallah dan Jerusalem.

Israel secara terbuka menyerukan penyelidikan bersama dan menekankan perlunya otoritas Palestina untuk menyerahkan peluru yang menewaskan Abu Akleh untuk pemeriksaan forensik. Uni Eropa telah mendesak penyelidikan independen. Amerika Serikat menuntut pembunuhan itu diselidiki secara transparan, seruan yang digaungkan oleh kepala hak asasi manusia PBB Michelle Bachelet.

Namun pejabat senior PA Hussein Al-Sheikh, orang kepercayaan dekat Abbas, mengatakan bahwa Palestina akan menyelidiki sendiri dan membagikan temuan mereka. "Kami menegaskan bahwa penyelidikan kami akan diselesaikan secara independen," kata Sheikh.

Dia menambahkan bahwa keluarga Abu Akleh, Amerika Serikat, Qatar dan semua otoritas resmi akan diberi tahu tentang hasilnya. Autopsi awal dan pemeriksaan forensik dilakukan di Nablus di Tepi Barat yang diduduki Israel beberapa jam setelah kematiannya, tetapi tidak ada kesimpulan akhir yang diungkapkan.

Seorang sumber di kantor jaksa agung Palestina mengatakan hasil laporan awal tentang peluru itu diharapkan dapat diperoleh Kamis malam.

Dimakamkan besok 

Abu Akleh, seorang Kristen yang lahir di Jerusalem timur yang dicaplok Israel, dijadwalkan akan dimakamkan di kota itu pada Jumat (13/5). Di rumah keluarga di Jerusalem, Rabu malam, saudara laki-lakinya Antoun mengatakan dia, "Saudara perempuan dari semua orang Palestina," menambahkan bahwa, "Apa yang terjadi tidak dapat dibungkam."

Baca juga: Amerika Serikat Abai terhadap Pelanggaran HAM Israel di Palestina

Kematiannya terjadi hampir setahun setelah serangan udara Israel menghancurkan sebuah bangunan Gaza yang menampung kantor Al Jazeera dan kantor berita AP. Ketegangan kembali meningkat dengan gelombang serangan yang telah menewaskan sedikitnya 18 orang di Israel sejak 22 Maret, termasuk seorang perwira polisi Arab-Israel dan dua warga Ukraina.

Sebanyak 31 warga Palestina dan tiga orang Arab Israel tewas selama periode yang sama, menurut penghitungan AFP. Di antara mereka ialah pelaku serangan dan mereka yang dibunuh oleh pasukan keamanan Israel dalam operasi Tepi Barat. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT