11 May 2022, 10:32 WIB

AS dan Sekutunya Tuduh Rusia Lakukan Serangan Siber pada Ukraina


Cahya Mulyana | Internasional

Brendan Smialowski / AFP
 Brendan Smialowski / AFP
Menlu AS Antony Blinken mengatakan serangan siber itu dimaksudkan untuk mengganggu komando militrerl Ukraina selama invasi.

RUSIA dituduh berada di balik serangan siber besar-besaran terhadap jaringan internet yang membuat ribuan modem offline pada awal perang di Ukraina, kata Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, dan Uni Eropa.

Serangan digital terhadap jaringan KA-SAT Viasat terjadi pada akhir Februari 2022, ketika Rusia meluncurkan invasi ke Ukraina.

Hal tersebut diungkap Dewan Uni Eropa mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Selasa (10/5).

KA-SAT adalah satelit telekomunikasi high-throughput milik Eutelsat. Satelit ini menyediakan layanan akses Internet broadband di seluruh Eropa .

“Serangan siber ini memiliki dampak signifikan yang menyebabkan pemutusan dan gangguan komunikasi tanpa pandang bulu di beberapa otoritas publik, bisnis dan pengguna di Ukraina, serta mempengaruhi beberapa Negara Anggota UE,” kata pernyataan itu.

Baca juga: Biden dan Draghi Bertemu di Gedung Putih, Bahas Soal Ukraina

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan serangan siber itu dimaksudkan untuk mengganggu komando dan kontrol Ukraina selama invasi, dan tindakan itu memiliki dampak limpahan ke negara-negara Eropa lainnya.

Sebuah pernyataan Kantor Luar Negeri Inggris mengutip Menteri Luar Negeri Liz Truss yang mengatakan serangan siber adalah serangan yang disengaja dan jahat oleh Rusia terhadap Ukraina.

Target utama Rusia adalah militer Ukraina, tetapi juga mengganggu ladang angin dan pengguna internet di Eropa tengah, kata pernyataan itu, mengutip Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris.

Pernyataan Kantor Luar Negeri mengutip intelijen baru Inggris dan AS yang menunjukkan bahwa Rusia berada di balik serangan siber, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

"Sabotase jarak jauh menyebabkan kehilangan besar dalam komunikasi di awal perang,” kata pejabat keamanan siber Ukraina Victor Zhora pada Maret.

Rusia secara rutin membantah melakukan operasi siber ofensif. Badan-badan intelijen Barat sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan serangan siber yang berpotensi menyebar ke tempat lain dan menyebabkan kerusakan limpahan pada jaringan komputer global.

Menjelang invasi Rusia melihat kesibukan operasi siber terhadap sasaran Ukraina. Pada Januari, para peneliti menemukan malware destruktif yang disebut WhisperGate yang beredar di Ukraina.

WhisperGate sangat mirip dengan serangan siber Rusia 2017 terhadap Ukraina, yang dikenal sebagai NotPetya, yang juga menghancurkan data pada ribuan sistem komputer lokal.

Serangkaian serangan penolakan layanan terdistribusi (DDoS) yang kemudian dikaitkan dengan Rusia oleh Inggris dan AS juga secara singkat membuat situs perbankan dan pemerintah Ukraina offline.

Pada dini hari tanggal 24 Februari, ketika pasukan Rusia memasuki Ukraina timur, para peretas melumpuhkan puluhan ribu modem internet satelit di Ukraina dan di seluruh Eropa. Modem menyediakan internet untuk ribuan orang Ukraina.

Ini tetap menjadi salah satu serangan siber terbesar yang diketahui publik telah terjadi dalam konflik tersebut.

Pada tanggal 1 Maret, serangan rudal terhadap menara TV Kyiv bertepatan dengan serangan siber destruktif yang meluas di media yang berbasis di Kyiv.

Beberapa hari kemudian, Microsoft mendeteksi kelompok Rusia di jaringan perusahaan tenaga nuklir Ukraina yang tidak disebutkan namanya, tepat saat militer Rusia menduduki pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia, yang terbesar di Eropa.

Pejabat senior keamanan nasional AS mengatakan Moskow menggabungkan kekuatan cyber dan militer dalam perang di Ukraina.

“Kami telah melihat Rusia memiliki pendekatan terpadu untuk menggunakan serangan fisik dan siber, secara terintegrasi, untuk mencapai tujuan brutal mereka di Ukraina,” kata pejabat senior keamanan siber Gedung Putih Anne Neuberger dalam konferensi. (Aljazeera/Cah/OL-09)

BERITA TERKAIT