10 May 2022, 12:45 WIB

Jika Korut Hentikan Program Nuklir, Korsel Pertimbangkan Kirim Bantuan Ekonomi


Nur Aivanni | Internasional

AFP/ANTHONY WALLACE
 AFP/ANTHONY WALLACE
Presiden Korsel Yoon Suk-yeol

PRESIDEN baru Korea Selatan Yoon Suk-yeol menyerukan denuklirisasi penuh Korea Utara pada pengambilan sumpahnya, Selasa (10/5).

Yoon, 61, mulai menjabat di tengah meningkatnya ketegangan dengan Korea Utara. Pyongyang telah melakukan rekor 15 uji coba senjata sejak Januari, termasuk dua peluncuran pada pekan lalu.

Dalam pidatonya, dia mengatakan akan mempertimbangkan untuk mengirim bantuan ekonomi yang signifikan ke Korea Utara, tetapi hanya jika Pyongyang menghentikan program nuklirnya.

"Jika Korea Utara benar-benar memulai proses untuk menyelesaikan denuklirisasi, kami (akan) menyampaikan rencana berani yang akan sangat memperkuat ekonomi Korea Utara dan meningkatkan kualitas hidup rakyatnya," kata Yoon.

Rudal dan nuklir Kim Jong Un, katanya, merupakan ancaman bagi keamanan Korea Selatan, regional dan global.

"Pintu dialog akan tetap terbuka sehingga kita dapat menyelesaikan ancaman ini secara damai," tambahnya.

Baca juga: Dilantik, Presiden Korsel Desak Korut Lucuti Senjata Nuklir

Di bawah pendahulunya Moon Jae-in, Korea Selatan mengejar kebijakan keterlibatan dengan Pyongyang, dengan menengahi pertemuan puncak antara Kim dan Presiden AS saat itu Donald Trump. Tetapi pembicaraan gagal pada 2019 dan diplomasi terhenti sejak itu.

Selama pidato pelantikannya, Yoon juga menyampaikan Korea Selatan menghadapi berbagai krisis, yang menyebut masalah pandemi, rantai pasokan global dan kesengsaraan ekonomi, serta konflik bersenjata dan perang yang kompleks.

Sekitar 40.000 orang menghadiri upacara peresmian besar-besaran tersebut. Menurut laporan lokal, itu adalah acara yang paling mahal di negara itu sejauh ini, sebesar 3,3 miliar won ($2,6 juta).(AFP/OL-5)

BERITA TERKAIT