29 April 2022, 23:00 WIB

Rusia Diduga Jadikan Perkosaan dan Pembunuhan Massal Senjata Perang


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Dimitar Dilkoff.
 AFP/Dimitar Dilkoff.
Seorang wanita lanjut usia, yang melarikan diri dari desa Ruska Lozova, beristirahat di titik evakuasi di Kharkiv, Ukraina timur.

PASUKAN Rusia diduga kuat melakukan ratusan perkosaan dan pembunuhan. Ini menjadikannya sebagai senjata perang untuk menciptakan terror selain bombardir membabi buta terhadap area sipil tempat warga sipil Ukraina tinggal. Hal tersebut tersimpulkan dari berbagai fakta dan kesaksian, termasuk dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. 

Saat berbicara di depan anggota parlemen Lituania, Presiden Zelenskyy bercerita panjang tentang kekejaman tentara Rusia yang mengerikan itu. Zelenskyy mengatakan, di wilayah-wilayah yang baru saja dibebaskan dari cengkeraman penjajah Rusia, pencatatan dan penyelidikan kejahatan perang yang dilakukan oleh Rusia terus menuai data baru. "Kuburan massal baru ditemukan hampir setiap hari," kata Zelenskyy.

Presiden Ukraina itu mengatakan testimoni terus dikumpulkan dengan korban yang mencapai ribuan. Pihak Ukraina juga menemukan ratusan kasus penyiksaan dan pembunuhan dengan mayat terus ditemukan di saluran air dan ruang bawah tanah. "Ratusan kasus pemerkosaan telah dicatat, termasuk gadis-gadis muda dan anak-anak yang masih di bawah umur, bahkan menimpa bocah kecil!" kata Zelenskyy. 

Dengan skala kebrutalan semengerikan itu, kelompok hak asasi Ukraina telah menginformasikan fakta tersebut kepada PBB. Mereka menduga kuat bahwa perkosaan dan pembunuhan massal itu sengaja dilakukan tentara Rusia dengan niat untuk menjadikannya sebagai senjata perang. "PBB harus mendengar dan tahu itu," kata Zelenskyy. 

Presiden Lituania, Gitanas Nauseda, yang hadir dalam pertemuan tersebut menanggapi dengan mengatakan, "Tidak mungkin membayangkan kengerian yang lebih besar dari itu." Lembaga hak-hak asasi internasional, Human Rights Watch, yang menurunkan timnya menyisir kota-kota Ukraina yang dibebaskan dari pendudukan Rusia mendapati kengerian yang sama. "Hampir setiap kota dan desa, tempat pasukan Rusia melakukan pendudukan, menjadi tempat kejadian perkara. Pemerkosaan, pembunuhan, dan kematian ada di mana-mana di Ukraina. Human Rights Watch menemukan banyak bukti bahwa pasukan Rusia yang menduduki beberapa kota di Ukraina mengabaikan kehidupan sipil dan prinsip-prinsip dari hukum perangm," kata peneliti senior HRW, Andreas Harsono. Laporan pandangan mata HRW itu bisa dilihat di https://www.hrw.org/news/2022/04/21/ukraine-russian-forces-trail-death-bucha dan penggalian data terus dilakukan guna pelaporan yang lebih resmi dan menyeluruh. 

Menurut Presiden La Strada-Ukraina, lembaga hak asasi manusia Ukraina, Kateryna Cherepakha, hotline darurat organisasinya telah menerima banyak telepon yang menuduh tentara Rusia bertanggung jawab atas sembilan kasus pemerkosaan melibatkan 12 wanita dan anak perempuan. Kepada PBB, Cherepakha mengatakan sejauh ini hal itu hanyalah puncak gunung es yang terlihat. "Kami tahu dan melihat dan kami ingin Anda mendengar suara kami bahwa kekerasan dan pemerkosaan sekarang digunakan sebagai senjata perang oleh penjajah Rusia di Ukraina," kata dia. 

Dia menyebut seorang bocah laki-laki berusia 1 tahun termasuk di antara korban. Anak itu dilaporkan diperkosa oleh pasukan Rusia di depan ibunya yang diikat ke kursi dan dipaksa untuk menonton adegan sadis tersebut. Meski Moskow berulang kali membantah tuduhan tersebut, tampaknya mereka akan kian sulit mengelak. Seorang tentara Rusia, Alexei Bychkov, 24, ditangkap dan diduga melecehkan seorang bocah kecil setelah beredarnya rekaman pelecehan tersebut. Ia diduga kuat merekam dirinya saat memperkosa si bocah dan membunuhnya setelah itu. 

The Sun melaporkan, Bychkov memfilmkan dirinya sendiri yang menganiaya bocah kecil itu, sebelum mengirim rekaman memuakkan itu kepada seorang rekan serta koleganya di  Rusia. Alexei Bychkov ditahan di Rusia pada Sabtu lalu, setelah klip keji itu muncul di media sosial selama akhir pekan. Sehari sebelumnya, ancaman tentang Bychkov muncul di Twitter yang merinci pelecehan horor tersebut. Dalam rekaman itu, dia dilaporkan mengatakan tengah merekam 'video ganas' sebelum menyerang bocah itu. Tidak diketahui secara pasti kapan dan di mana rekaman itu diambil.

Informasi tentang Bychkov kemudian dipublikasikan secara online di aplikasi media sosial berbahasa Rusia, VKontakte. Dia dikatakan lahir pada 1997 di dekat Stavropol, Rusia barat daya, dan tinggal di wilayah Krasnodar, tidak jauh dari Krimea yang diduduki Rusia. Menurut sumber-sumber Rusia, ia bertugas di unit militer No. 64044 yang berbasis di pinggiran kota Pskov, Rusia barat, dekat perbatasan dengan Estonia. Jika video itu diverifikasi, itu akan menjadi kejahatan perang terbaru yang diduga dilakukan tentara Rusia.

Komisioner Parlemen Ukraina untuk Hak Asasi Manusia, Lyudmila Denisova, membuka banyak kasus kekejaman yang dilakukan tentara Rusia. Di Bucha ia menemukan sejumlah warga sipil tewas dengan menunjukkan tanda-tanda penyiksaan, sebelum ditemukan beberapa waktu kemudian. Denisova juga mengeklaim ada lima personel tentara Putin memperkosa seorang gadis berusia 14 tahun. Dia juga mengatakan, sekitar 120.000 anak-anak Ukraina ditangkap dan diculik, dengan beberapa diperkosa dan lainnya diselundupkan ke Rusia. 

Ada seorang wanita bernama Tetiana Zadorozhniak, diperkirakan diperkosa dan dibantai di kota Makariv, 30 mil dari Kyiv, bulan lalu. Tetiana diyakini telah diperkosa dan dibunuh. Pada saat rumahnya didatangi warga setelah mundurnya tentara Rusia, seprai bernoda darah difilmkan di tempat pembunuhan Tetiana. Rekaman juga menunjukkan kamar-kamar di rumah itu telah dihancurkan dan isinya dibuang. Juru kamera yang mengabadikan terdengar terisak-isak saat dia menggambarkan adegan itu.

Klip video yang dibagikan di Telegram dan Twitter oleh Penasihat Kementerian Dalam Negeri Ukraina, Anton Gerashchenko, menunjukkan bagian dalam rumah tempat Tetiana. Menurut sesama warga, Tetiana diseret keluar dari rumahnya oleh orang-orang Ramzan Kadyrov saat dia menunggu evakuasi. Dia ditawan di rumah terdekat dan dianiaya. Setelah berhari-hari disiksa, salah satu tentara memperkosanya untuk terakhir kali sebelum memotong tenggorokannya, dan membuang tubuhnya yang sudah tak bernyawa di kuburan dangkal, kata penduduk setempat.

Saksi mata mengeklaim bahwa tentara Chechnya yang memperkosa dan membunuh Tetiana kemudian dieksekusi oleh rekannya yang lain. Di tempat lain di Bucha, 25 gadis dalam rentang usia 14 hingga 25 tahun, diperkosa secara 'sistematis' saat ditahan di ruang bawah tanah. 'Korban mengatakan, tentara-tentara Rusia itu berteriak bahwa mereka akan memperkosa para korban sampai pada titik di mana korban tidak menginginkan kontak seksual dengan pria mana pun, untuk mencegah korban-korban memiliki anak Ukraina,' kata Denisova.

Rusia berulang kali membantah menyerang warga sipil sejak invasinya ke Ukraina dimulai pada 24 Februari. "Rusia, seperti yang telah kami nyatakan lebih dari sekali, tidak berperang melawan penduduk sipil," kata Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB, Dmitry Polyanskiy, kepada Dewan Keamanan, Senin lalu. Ia balik menuduh Ukraina dan sekutunya memiliki niat yang jelas untuk menampilkan tentara Rusia sebagai sadis dan para pemerkosa.

Sementara Direktur Eksekutif UN Women, Sima Bahous, mengatakan bahwa semua tuduhan harus diselidiki secara independen untuk memastikan keadilan dan akuntabilitas. "Kami semakin banyak mendengar tentang pemerkosaan dan tindakan kekerasan seksual," katanya kepada Dewan. Duta Besar Ukraina untuk PBB Sergiy Kyslytsya mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa Kantor Kejaksaan Agung Ukraina telah meluncurkan mekanisme khusus dokumentasi kasus kekerasan seksual oleh tentara Rusia terhadap perempuan Ukraina. (OL-14)

BERITA TERKAIT