22 April 2022, 14:39 WIB

IMF: Dunia akan Menghadapi Krisis Lebih Parah dari Pandemi


Fetry Wuryasti | Internasional

AFP
 AFP
Warga di Kiev, Ukraina, berjalan di sekitar bangunan yang hancur akibat serangan Rusia.

DUNIA menghadapi situasi di mana invasi Rusia ke Ukraina berpotensi menjadi krisis yang lebih parah dibandingkan krisis akibat pandemi covid-19.

Hal itu ditekankan First Deputy of IMF Gita Gopinath. Menurutnya, krisis di atas krisis tersebut mengakibatkan pertumbuhan ekonomi dunia terpaksa direvisi turun. Dari sebelumnya 4,4% kemudian menjadi 3,6% untuk periode 2022.

IMF juga telah meningkatkan proyeksi inflasi dunia cukup signifikan untuk 2022, yakni menjadi sebesar 5,7% di negara maju dan 8,7% di negara berkembang.

Dalam hal prospek, ada beberapa kekuatan yang membentuk pandangan. Salah satu yang terbesar adalah invasi Rusia ke Ukraina dan sanksi yang menghambat laju perekonomian.

Baca juga: Perekonomian 2023 Masih Dibayangi Tantangan Besar

"Negara-negara tetangga Rusia dan Ukraina, maupun yang memiliki hubungan langsung, terkena pukulan sangat. Beberapa negara juga terimbas gelombang pengungsi. Namun sekarang, dampak perang Rusia dan Ukraina sudah berdampak luas ke seluruh dunia," ujar Gita, Jumat (22/4).

Kenaikan harga komoditas energi dan pangan menambah tekanan inflasi. Padahal, tekanan inflasi sudah cukup tinggi di banyak negara. Misalnya, harga logam utama dan biji-bijian berada pada level tertinggi dalam satu dekade terakhir. 

Lalu, beberapa negara, seperti di Asia Tengah, sangat bergantung pada ekspor makanan dari Rusia dan Ukraina. Alhasil, semakin lama konflik berlangsung, semakin tinggi pula risiko kerawanan pangan di wilayah tersebut.

"Salah satu dampak terbesar dari perang ini adalah pasar komoditas komoditas global. Harga energi sudah sangat naik, baik minyak maupun gas alam," imbuhnya. 

Dia pun menyoroti perlambatan ekonomi yang terjadi di Tiongkok. Apalagi, negara itu mengalami lonjakan infeksi covid-19, yang berdampak pada pembatasan aktivitas warga.

Baca juga: Hadapi Rusia, Lagi Ukraina Dapat Kiriman Pasokan Senjata dari AS

Ditambah lagi, ada risiko bagi negara-negara berkembang, jika terjadi pengetatan moneter yang sangat cepat di sejumlah negara maju. Hal ini menyebabkan biaya pinjaman naik untuk negara berkembang dan adanya risiko arus keluar modal di sisi fiskal.

"Kita tengah dilanda krisis di atas krisis. Bank sentral, terutama di banyak negara, dalam siklus pengetatan. Mereka menaikkan suku bunga dan ruang fiskal cukup sempit," pungkas Gita.

Risikos stabilitas keuangan meningkat, karena perang benar-benar menguji ketahanan sistem keuangan seburuk itu dan menjadi perhatian yang cukup besar. Begitu risiko terus naik, inflasi bisa menyebabkan keresahan sosial di banyak negara.

Pada tantangan jangka panjang, pandemi covid-19 telah menimbulkan efek lebam di banyak negara maju dan berkembang. Khususnya, terhadap PDB dan pendapatan di sejumlah negara. Sektor pendidikan maupun kesehatan pun juga mengalami dampak besar.(OL-11)

BERITA TERKAIT