19 April 2022, 09:09 WIB

Puluhan Orang Ditangkap dalam Kerusuhan Terkait Rencana Pembakaran Al-Qur'an di Swedia


Nur Aivanni | Internasional

AFP/Stefan JERREVANG
 AFP/Stefan JERREVANG
Polisi mengevakuasi seorang warga yang mengalami luka tembak di kakinya dalam aksi kerusuhan di Norrkoping, Swedia.

LEBIH dari 40 orang telah ditangkap setelah terjadi bentrokan di Swedia antara polisi dan orang-orang yang marah atas rencana kelompok sayap kanan untuk membakar salinan Al-Qur'an.

Dikatakan polisi, tiga orang terluka di Norrkoping, Minggu (17/5), ketika petugas melepaskan tembakan peringatan ke arah perusuh.

Kekerasan itu dipicu serangkaian aksi unjuk rasa yang diselenggarakan politisi Denmark-Swedia Rasmus Paludan. Dia mengatakan dia telah membakar salinan kitab suci umat Islam dan ingin melakukannya lagi.

Baca juga: BKSAP DPR RI Desak PBB Sikapi Kekerasan di Al-Aqsa

Arab Saudi telah mengutuk penyalahgunaan Al-Qur'an yang disengaja oleh beberapa ekstremis di Swedia dan provokasi serta hasutan terhadap Muslim. Sementara, Iran dan Irak telah memanggil Duta Besar Swedia untuk mengajukan protes.

Kepala polisi nasional Swedia, Anders Thornberg, mengatakan dia belum pernah melihat kerusuhan dengan kekerasan seperti itu menyusul bentrokan pada Minggu (17/4) di Norrkoping, yang berjarak sekitar 160 km barat daya Stockholm dan Linkoping di dekatnya.

Kedua kota tersebut juga menyaksikan kerusuhan, Jumat (15/4), bersama dengan pinggiran Stockholm Rinkeby dan Kota Orebro. Pada Sabtu (16/4), terjadi kerusuhan di Kota Malmo.

Pada Senin (18/4), polisi mengatakan 26 petugas polisi dan 14 anggota masyarakat terluka dalam kekerasan tersebut dan lebih dari 20 kendaraan rusak atau hancur.

Mereka mengatakan sekitar 200 orang telah terlibat dalam kekerasan tersebut dan mereka percaya itu diorganisir oleh jaringan geng kriminal. Beberapa individu sudah diketahui polisi dan dinas keamanan Swedia, Sapo.

Kekerasan pada Minggu (17/4) di Norrkoping terjadi setelah Paludan mengatakan dia berencana menggelar unjuk rasa di sana. Namun, dia tidak pernah muncul di kota itu.

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah partai sayap kanannya yang antiimigran, Stram Kurs, Paludan mengatakan dia membatalkan unjuk rasa karena pihak berwenang Swedia telah menunjukkan mereka sama sekali tidak mampu melindungi diri mereka sendiri dan dirinya.

Dia sebelumnya, Kamis (14/4), muncul di pusat kota Jonkoping, tetapi ketika dia berbicara dengan megafon sambil memegang Quran, kata-katanya ditenggelamkan oleh seorang pendeta yang membunyikan lonceng gereja lokal sebagai bentuk protes.

Protes terhadap rencana Stram Kurs untuk membakar Al-Qur'an telah berubah menjadi kekerasan di Swedia sebelumnya. Pada 2020, pengunjuk rasa membakar mobil dan bagian depan toko dirusak dalam bentrokan di Malmo.

Paludan mewakili partai Stram Kurs dalam pemilihan Denmark terakhir pada 2019, di mana dia memperoleh 1,8% suara dan gagal memenangkan kursi.

Pada 2020, dia dipenjara di Denmark selama sebulan karena serangkaian pelanggaran termasuk rasisme.

Dia berencana mencalonkan diri dalam pemilihan Swedia pada September, tetapi dia dilaporkan belum memiliki jumlah tanda tangan yang diperlukan untuk mengamankan pencalonannya. (BBC/OL-1)

BERITA TERKAIT