18 April 2022, 06:46 WIB

Presiden Yaman Mengundurkan Diri karena Dorongan Arab Saudi


Nur Aivanni | Internasional

AFP/YEMEN TV
 AFP/YEMEN TV
Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi mengumumkan pengunduran dirinya dan menyerahkan kekuasaan ke sbeuah dewan baru.

ARAB Saudi mendorong Presiden Yaman untuk mundur, awal bulan ini, menurut laporan Wall Street Journal, Minggu (17/4). 

Abedrabbo Mansour Hadi mengumumkan pengunduran dirinya pada 7 April, dengan menyerahkan kekuasaannya kepada dewan kepemimpinan baru ketika Yaman memasuki gencatan senjata yang rapuh.

Mengutip pejabat Saudi dan Yaman yang tidak disebutkan namanya, Journal mengatakan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman memberikan Hadi sebuah dekrit tertulis agar mendelegasikan kekuasaannya kepada dewan, yang terdiri dari delapan perwakilan dari kelompok Yaman yang berbeda.

Baca juga: Menyusul Protes Antipemerintah, Presiden Yaman Berhentikan Wakilnya

Menurut pejabat tersebut, dikatakan Journal, beberapa pejabat Saudi telah mengancam mempublikasikan apa yang mereka katakan sebagai bukti korupsi Hadi dalam upaya mereka untuk meyakinkan dia untuk mundur.

Sejak meninggalkan kantor, Hadi dikurung di rumahnya di Riyadh dan dilarang mengakses telepon, menurut seorang pejabat Arab Saudi kepada Journal.

Namun, pejabat Saudi lainnya mengatakan Hadi didorong untuk mengundurkan diri karena berbagai faksi Yaman telah kehilangan kepercayaan pada kemampuannya untuk memimpin negara Timur Tengah itu.

Arab Saudi pun menyambut baik pengumuman pengunduran diri Hadi dan menjanjikan US$3 miliar dalam bentuk bantuan dan dukungan untuk tetangganya yang dilanda perang.

Pemerintah Hadi, yang diakui secara internasional, telah terkunci dalam konflik selama tujuh tahun melawan Houthi yang didukung Iran, yang mengendalikan ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara meskipun intervensi militer koalisi pimpinan Saudi diluncurkan pada 2015.

Hadi telah berbasis di Arab Saudi sejak melarikan diri ke kerajaan tahun itu ketika pasukan pemberontak mendekati benteng terakhirnya, kota pelabuhan selatan Aden.

Perang tersebut telah menewaskan ratusan ribu orang secara langsung atau tidak langsung dan memicu apa yang disebut PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan jutaan orang di ambang kelaparan.

Penyerahan kekuasaan Hadi kepada dewan terjadi pada akhir pembicaraan di ibu kota Saudi, Riyadh, yang menyatukan faksi-faksi anti-Houthi tetapi diboikot oleh Houthi sendiri. Pasalnya, mereka menolak menghadiri pembicaraan di wilayah musuh.

Kendati demikian, Houthi menolak pengunduran diri Hadi sebagai upaya putus asa untuk mengatur ulang barisan tentara bayaran yang berperang di Yaman. Mereka mengatakan perdamaian hanya akan datang setelah pasukan asing pergi. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT