12 April 2022, 22:21 WIB

Perubahan Iklim Perparah Hujan Ekstrem di Musim Badai


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/RAMMB/NOAA/NESDIS.
 AFP/RAMMB/NOAA/NESDIS.
Citra satelit RAMMB/NOAA diperoleh pada 4 Agustus 2020 menunjukkan badai tropis Isaias di lepas pantai timur AS, Samudra Atlantik.

PERUBAHAN iklim memicu badai selama musim badai Atlantik Utara yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 2020. Ini meningkatkan jumlah curah hujan ekstrem hingga 10%. Penelitian baru yang diterbitkan Selasa (12/4) menyampaikan itu.

Sedikitnya 400 orang tewas dalam serangkaian badai dahsyat dua tahun lalu di Amerika Tengah, Amerika Serikat, dan Karibia, dengan hujan lebat, angin kencang, dan banjir yang menyebabkan kerugian puluhan miliar dolar. Rekor 30 nama badai Atlantik pada musim 2020 begitu banyak sehingga pihak berwenang kehabisan nama standar mereka dan harus menggunakan daftar cadangan hanya untuk kedua kali.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa pemanasan global meningkatkan intensitas dan frekuensi badai tropis besar-besaran. "Temuan utama dari penelitian kami yakni perubahan iklim yang disebabkan manusia meningkatkan curah hujan ekstrem yang terkait dengan musim badai 2020 sebesar 5%-10%," kata penulis utama Kevin Reed, dari School of Marine and Atmospheric Sciences di Stony Brook University.

Para peneliti melihat dua fenomena yang bertanggung jawab atas banjir yaitu hujan lebat dalam waktu singkat dan hujan terus menerus dalam waktu yang lebih lama. Secara keseluruhan pada 2020, mereka menemukan perubahan iklim meningkatkan volume hujan yang turun pada tiga hari terburuk sebesar 5% dan 10% selama tiga jam paling intens.

Namun untuk badai yang meningkat menjadi angin topan yang kuat, studi tersebut menemukan bahwa efek perubahan iklim diperbesar dengan peningkatan 8% untuk tiga hari terburuk dan 11% untuk tiga jam paling intens. "Peningkatan sinyal antropogenik dalam curah hujan dari badai dibandingkan dengan curah hujan dari semua kekuatan badai tropis merupakan temuan penting dengan konsekuensi langsung bagi masyarakat pesisir," kata studi tersebut.

Karena emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, planet ini secara keseluruhan telah menghangat sekitar 1,1 derajat celsius sejak zaman praindustri. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pemanasan ini telah meningkatkan curah hujan terkait badai selama tahun-tahun lain, termasuk Irma pada 2017, Harvey pada 2017, Dorian pada 2019.

Baca juga: Perubahan Iklim Dorong Hujan Ekstrem dalam Badai Afrika Tenggara

Para peneliti mengatakan studi terbaru menunjukkan efek serupa bisa terjadi di bagian lain dunia. Mereka mengatakan itu juga menambah bobot gagasan bahwa pemanasan akan menyebabkan peningkatan lebih lanjut di musim badai Atlantik Utara tingkat curah hujan ekstrem. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT