31 March 2022, 21:18 WIB

ISIS bakal Menjadi Musuh Baru Israel?


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Oren Ben Hakoon.
 AFP/Oren Ben Hakoon.
Pasukan keamanan Israel memeriksa lokasi serangan penusukan di bus dekat permukiman Elazar di Tepi Barat yang diduduki, 31 Maret 2022.

ISRAEL telah lama berperang dengan gerilyawan Palestina. Akan tetapi serangan mematikan baru-baru ini yang diklaim atau diilhami oleh kelompok ISIS menimbulkan kekhawatiran terhadap ancaman keamanan baru.

Negara Yahudi itu telah memerangi Hamas dan Jihad Islam di Gaza. Namun kekerasan baru-baru ini dikaitkan dengan ISIS, yang telah meradikalisasi pengikutnya secara online dan mengilhami serangan tunggal di banyak negara.

Relatif sedikit warga Palestina dan Arab Israel yang bergabung dengan ISIS sebelum kekalahan teritorial terakhir mereka di Suriah pada 2019. Sebagian besar memilih untuk tinggal di rumah dan berjuang untuk kemerdekan Palestina.

Sejak runtuhnya kekuasaan ISIS yang dideklarasikan sendiri, kelompok itu telah melemah setelah mendapat pukulan lain ketika pasukan khusus AS pada Februari membunuh pemimpinnya saat itu Abu Ibrahim al-Qurashi. Jadi, sangat mengejutkan bahwa wali kota Umm el-Fahm, kota Arab di Israel utara, mengetahui bahwa serangan yang diklaim ISIS pada Minggu telah dilakukan oleh dua penduduknya.

Orang-orang itu, yang diidentifikasi oleh intelijen Israel sebagai operator ISIS, membunuh dua petugas polisi di Hadera, 25 kilometer (15 mil) jauhnya. "Umm el-Fahm tentu saja kota yang religius, tetapi saya terkejut mengetahui bahwa ISIS hadir," kata wali kota, Samir Mahamid, kepada AFP.

Dia mengakui bahwa kotanya, seperti banyak kota di Israel dan Tepi Barat yang diduduki, dibanjiri senjata, sebagian karena kejahatan terorganisasi, dan memperingatkan bahwa besok senjata ini akan diarahkan ke tempat lain.

Baca juga: Pasukan Israel Serbu Jenin, Tiga Warga Palestina Tewas

Ketika polisi menggerebek apartemen salah satu pria, mereka menemukan materi ISIS. Seorang sumber keamanan mengatakan kepada AFP bahwa salah satu penyerang telah ditangkap pada 2015, ketika berencana untuk melakukan perjalanan ke Suriah.

Peniru

Penembakan Hadera didahului oleh serangan di Israel selatan yang membuat empat orang tewas dalam penusukan dan amukan mobil oleh seorang Arab Israel. Pelaku sebelumnya dipenjara karena mencoba bergabung dengan ISIS di Suriah.

Pada Selasa, serangan ketiga mengguncang Israel, ketika seorang pria Palestina membunuh lima orang, termasuk seorang polisi, dengan senapan serbu di Bnei Brak, pinggiran ultraortodoks Tel Aviv. Meskipun serangan itu tidak diklaim oleh kelompok mana pun, pilihan sasaran sipil yang tampaknya acak mengingatkan serangan ISIS di masa lalu lebih banyak daripada yang dilakukan oleh faksi-faksi bersenjata Palestina yang lebih sering menyerang pasukan keamanan Israel.

Pembunuhan besar-besaran itu memicu operasi tentara Israel di Tepi Barat dan kekerasan yang lebih mematikan, menjelang awal Ramadan akhir pekan ini yang sering kali merupakan saat ketegangan meningkat. Israel telah mengumumkan siaga keamanan tertinggi sejak bulan suci umat Islam tahun lalu yang memulai perang pengeboman selama 11 hari antara Hamas dan Israel.

Baca juga: Warga Israel Terkejut dan Ketakutan setelah Serangan di Pusat Kota

Para ahli mengatakan bahwa, meski serangan baru-baru ini bukan bukti peningkatan ancaman ISIS, mereka berisiko menginspirasi orang lain. "Ada elemen peniru," kata Hugh Lovatt, rekan kebijakan senior di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri. "Karena ada peningkatan jumlah serangan, ada peningkatan jumlah warga Palestina yang bersedia untuk meningkatkan dan melampiaskan kemarahan dan frustrasi mereka."

Mitos 

Damien Ferre, pendiri perusahaan Jihad Analytics, memperingatkan bahwa ISIS masih memiliki kemampuan untuk menyerang Israel meskipun ada mitos bahwa itu terlalu sulit. Meskipun kelompok itu sekarang hanya mengoperasikan sel-sel di Suriah dan Irak, "Mereka mempertahankan kemampuan untuk merencanakan atau mengilhami serangan," kata Ferre, yang perusahaannya mempelajari jihad dan dunia maya.

"Israel tetap di radar bahkan jika itu bukan target prioritas dan ini kisah sukses kecil untuk khalifah baru," katanya mengacu pada pemimpin baru ISIS Abu Hasan al-Hashemi al-Qurashi.

Yoram Schweitzer, dari Institut Internasional Untuk Kontra-Terorisme, memperkirakan bahwa ada beberapa lusin pendukung ISIS di Israel. "Saya tidak akan menganggap sel ini berarti ada organisasi ISIS di Israel," katanya.

"Itu keputusan operasi lokal," tambah Schweitzer. Ia menggemakan penilaian umum bahwa operasi ISIS cenderung bertindak sendiri, sehingga lebih sulit untuk mengantisipasi dan mencegah serangan.

Baca juga: Sekjen PBB dan Menlu AS Kutuk Serangan Teroris di Israel

Hamas dalam beberapa tahun terakhir memerangi elemen-elemen ISIS yang berusaha membangun pijakan di Gaza, tetapi Hamas menyambut baik serangan-serangan baru-baru ini. Ia memuji penembakan Selasa sebagai operasi heroik.

Seorang sumber keamanan Israel, berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa Hamas tidak menginginkan perang sekarang, tetapi ingin menjaga konflik dengan Israel tetap hidup. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT