30 March 2022, 07:50 WIB

Rusia Dituduh Sebabkan Krisis Pangan Global


Nur Aivanni | Internasional

AFP/	KHALED ZIAD
 AFP/ KHALED ZIAD
Ilustrasi warga Yaman menerima bantuan makanan

RUSIA dituduh telah menyebabkan krisis pangan global dan membuat orang berisiko kelaparan dengan memulai perang di Ukraina.

"Presiden Rusia Vladimir Putin memulai perang ini. Vladimir Putin menciptakan krisis pangan global ini. Dan dialah yang dapat menghentikannya," kata Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman dalam pertemuan Dewan Keamanan yang membahas situasi kemanusiaan di Ukraina, Selasa (29/3).

"Tanggung jawab untuk mengobarkan perang di Ukraina - dan untuk efek perang terhadap keamanan pangan global - jatuh sepenuhnya pada Rusia dan Presiden Putin," lanjutnya.

Duta Besar Prancis untuk PBB Nicolas de Riviere melanjutkan agresi Rusia terhadap Ukraina meningkatkan risiko kelaparan di seluruh dunia dan populasi di negara berkembang akan menjadi yang pertama terkena dampaknya.

"Rusia tidak diragukan lagi akan mencoba membuat kami percaya bahwa sanksi yang diterapkan terhadapnyalah yang menciptakan ketidakseimbangan dalam situasi keamanan pangan dunia," tambah de Riviere.

Baca juga: PBB: Yaman Alami Kelaparan

Sementara itu, Duta Besar Moskow untuk PBB Vassily Nebenzia memang membantah potensi gejolak di pasar pangan global sebenarnya disebabkan oleh histeria sanksi tak terkendali yang telah dilancarkan Barat terhadap Rusia.

Sherman dan Direktur Program Pangan Dunia (WFP) David Beasley melaporkan Ukraina dan Rusia mewakili 30% ekspor gandum dunia, 20% untuk jagung, dan 75% untuk minyak bunga matahari.

Pada Jumat, Uni Eropa mengumumkan sebuah inisiatif untuk mengatasi kekurangan pangan akibat perang tersebut. Uni Eropa dan Amerika Serikat menginginkan komitmen multilateral terhadap pembatasan ekspor bahan baku pertanian.

Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan Joyce Msuya mengatakan konflik di Ukraina mengancam untuk memperburuk keadaan dalam krisis kemanusiaan terbesar di dunia, seperti Afghanistan, Yaman, dan di Tanduk Afrika di mana kerawanan pangan sudah menjadi masalah. (AFP/OL-5)

BERITA TERKAIT