30 March 2022, 06:42 WIB

Gereja Ortodoks Yunani Kecam Ekstremis Israel Kuasai Asrama Jerusalem


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Hazem Bader.
 AFP/Hazem Bader.
Patriark Ortodoks Yunani Jerusalem Theophilos III menyampaikan pidato selama konferensi pers, Selasa (29/3).

PARA pemimpin Gereja Ortodoks Yunani pada Selasa (29/3) mengecam yang mereka sebut pengambilalihan ilegal oleh ekstremis Israel atas asrama Jerusalem yang dioperasikan oleh orang-orang Palestina. Mereka mengatakan anggota organisasi pemukim Ateret Cohanim masuk ke properti Jerusalem timur pada Minggu (27/3), di samping toko penukaran uang, dan menerima perlindungan polisi Israel meskipun tidak memiliki pemberitahuan penggusuran.

Pada 2019, Mahkamah Agung Israel menyimpulkan bahwa organisasi pemukim Ateret Cohanim telah secara legal membeli asrama tersebut bersama dengan dua bangunan terdekat lain dari Gereja Ortodoks Yunani dalam kesepakatan pada 2004 yang kontroversial dan rahasia. Gereja telah lama menyangkal hal ini dan perselisihan hukum terus berlanjut.

Ateret Cohanim bekerja untuk Yudaise Jerusalem timur dengan membeli realestat melalui perusahaan dan kemudian memindahkan pemukim Yahudi. "Bertindak dengan cara agresif yang ilegal terhadap properti Kristen yang dikenal dan bisnis Arab--terutama menjelang Paskah dan Ramadhan--kemungkinan dapat memicu permusuhan lokal," kata Gereja dalam sebuah pernyataan Selasa.

Ia menambahkan bahwa Theophilus III, patriark Gereja Ortodoks Jerusalem, telah berkonsultasi dengan para kepala gereja di kota mengenai masalah tersebut. "Patriark meminta polisi bertindak untuk mengusir Ateret Cohanim sampai proses hukum yang sedang berlangsung selesai dan diselesaikan."

Daniel Luria, direktur eksekutif Ateret Cohanim, mengatakan kelompoknya tidak terlibat dalam proses hukum apa pun dan tidak akan mengomentari kasus di pengadilan. "Bahkan jika kami bagian dari proses pengadilan, kami tidak akan pernah bertindak bertentangan dengan putusan pengadilan atau bertindak ilegal," katanya kepada AFP.

Medhat Deeba, seorang pengacara yang mewakili keluarga Qiresh Palestina yang mengelola asrama, mengatakan bahwa anggota organisasi Israel telah mengambil alih salah satu dari dua bagian properti. "Mereka tidak memberikan surat penggusuran kepada warga dan mereka masuk secara ilegal," katanya.

Asrama tersebut berada di Kota Tua Jerusalem timur, yang direbut Israel pada 1967 dan kemudian dicaplok dalam langkah yang tidak pernah diakui oleh sebagian besar masyarakat internasional. Gereja Ortodoks Yunani ialah gereja terbesar dan terkaya dengan kepemilikan tanah yang luas di Jerusalem sejak berabad-abad yang lalu.

Lembaga itu telah menghadapi tuduhan korupsi berulang kali dan memfasilitasi perluasan pemukiman Israel di propertinya. Ketika kesepakatan pada 2004 terungkap, Gereja menghadapi kemarahan warga Palestina yang meluas sehingga menyebabkan pemecatan Patriark Irineos I pada 2005. Sejak itu, Gereja Ortodoks Yunani dan para penyewa telah berusaha untuk membatalkan penjualan. 

Pengambilalihan properti oleh pemukim di Jerusalem sering memicu gejolak kekerasan. Tahun lalu pemukim yang didukung oleh pengadilan Israel berusaha mengusir keluarga Palestina dari lingkungan Jerusalem timur Sheikh Jarrah, tempat orang Yahudi tinggal sebelum perang 1948 yang menciptakan Israel.

Baca juga: Serangan Senjata Bunuh Lima Orang di Dekat Tel Aviv Israel

Hukum Israel mengizinkan warga negara Yahudi untuk mengeklaim kembali properti yang dimiliki oleh orang Yahudi di Jerusalem timur sebelum pendirian Israel. Di sisi lain, warga Arab tidak memiliki jalan lain untuk proses tersebut. Protes terhadap pengusiran Sheikh Jarrah memicu perang 11 hari berdarah tahun lalu antara Israel dan gerakan Islam Hamas yang menguasai Jalur Gaza. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT