23 March 2022, 14:05 WIB

Oposisi Belarus Serukan Sanksi Keras pada Lukashenko


Nur Aivanni | Internasional

Wojtek Radwanski / AFP
 Wojtek Radwanski / AFP
Tokoh oposisi Belarus, Pavel Latushko, yang melarikan diri ke Polandia. 

SEORANG tokoh oposisi Belarus terkemuka, pada Rabu (23/3), mendesak Barat untuk memperkuat sanksi terhadap Presiden Alexander Lukashenko dan rezimnya karena mendukung invasi Rusia ke Ukraina.

Lukashenko telah mendukung perang Presiden Rusia Vladimir Putin, yang memungkinkan dia untuk melancarkan serangan dari wilayah Belarus.

Meskipun dia telah menghadapi sanksi yang diperketat sejak menindak keras aksi protes massa di Belarus menyusul pemilihan umum pada 2020 yang secara luas dikecam sebagai kecurangan, para kritikus berpendapat negara-negara Barat dapat dan harus melangkah lebih jauh.

"Lukashenko pantas mendapatkan kecaman global yang jauh lebih banyak daripada yang telah terjadi," kata Pavel Latushko, seorang pembangkang Belarus yang berbasis di Polandia menulis di surat kabar The New European.

Baca juga : Ini Alasan Rusia Mati-matian Kepung Mariupol

"Dia mungkin pion Putin. Tapi dia juga pemain utama dalam pertunjukan horor ini, dan sudah saatnya Barat menyadarinya, dan bertindak sesuai dengan itu. Kedua monster ini harus dimintai pertanggungjawaban," terangnya.

Latushko, yang melarikan diri dari tanah airnya di tengah tindakan keras yang telah membuat puluhan ribu orang ditahan, telah menulis surat terbuka kepada para pemimpin dunia yang mendesak mereka untuk menjatuhkan sanksi pada Belarus seperti yang dilakukannya pada Rusia.

Dia juga ingin masyarakat internasional mempertimbangkan untuk memasukkan Lukashenko dalam setiap tuduhan kejahatan perang yang diajukan. Dia pun mencatat bahwa para pembangkang juga telah mengumpulkan bukti tentang penindasan brutalnya di Belarus.

"Barat membutuhkan tanggapan yang serius; penuntutan atas kejahatan masa lalunya; sanksi atas kejahatannya saat ini," kata Latushko dalam surat itu.

Awal bulan ini, Amerika Serikat memperbarui sanksi terhadap Lukashenko, sementara AS memperketat pembatasan pada pemerintahannya dan ekonomi negara itu.

Itu termasuk pembatasan visa pada puluhan orang yang diduga terlibat dalam merusak demokrasi di Belarus serta larangan ekspor barang mewah ke negara Eropa timur dan langkah lainnya.

Sementara Inggris saat ini memiliki 108 individu dan 10 entitas dari Belarus yang dikenai sanksi, setelah memperluas daftar targetnya awal bulan ini. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT