22 March 2022, 08:05 WIB

Mendadak, PM Israel Temui Presiden Mesir dan Pemimpin UEA


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Maya Alleruzzo.
 AFP/Maya Alleruzzo.
Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengadakan rapat kabinet mingguan di Yerusalem, pada 20 Maret 2022.

PERDANA Menteri Israel Naftali Bennett mengadakan pertemuan puncak tiga arah, Senin (21/3), di Mesir dengan para pemimpin Mesir dan Emirat. Latar belakang pembicaraan ketiganya, kata media Israel, yakni nuklir Iran.

Kunjungan mendadak Bennett ke Mesir bertemu dengan Presiden Abdel Fattah al-Sisi dilaporkan oleh media Israel.
Tak lama setelah itu, kantor berita resmi UEA WAM mengatakan bahwa Putra Mahkota Abu Dhabi dan pemimpin de facto UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al-Nahyan juga berada di resor Laut Merah Sharm el-Sheikh untuk melakukan pembicaraan dengan Sisi.

Juru bicara Sisi, Bassam Radi, mengonfirmasi kunjungan Sheikh Mohammed, yang menurut WAM, bertujuan memajukan kerja sama di semua lini untuk kepentingan kedua negara dan rakyat mereka. Sheikh Mohammed dan Sisi meninjau isu-isu yang menarik dan perkembangan terbaru di kancah regional dan internasional dan menekankan, "Pentingnya memperkuat solidaritas Arab dalam menghadapi tantangan bersama," kata WAM tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Baca juga: PM Israel Harap Rezim Iran Berubah dalam Tahun Baru Persia

Pejabat Israel dan Mesir tidak segera mengonfirmasi kunjungan Bennett. Namun beberapa media Israel melaporkan bahwa ketiga pemimpin sedang mendiskusikan laporan bahwa Iran dan kekuatan Barat, termasuk Amerika Serikat, hampir mencapai kesepakatan untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015.

Bennett dengan keras menentang pakta antara musuh bebuyutan Israel Iran dan kekuatan dunia. Amerika Serikat telah mengatakan pekan lalu bahwa Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan untuk memulihkan kesepakatan itu.

"Kami hampir mencapai kesepakatan yang mungkin, tetapi kami belum sampai di sana," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price pada 16 Maret. "Kami pikir masalah yang tersisa dapat dijembatani."

Baca juga: Iran Katakan Hadir di Suriah untuk Bantu Perangi ISIS

Bennett telah meminta sekutu utama Israel, Amerika Serikat, untuk tidak menghapus Pengawal Revolusi Iran dari daftar hitam organisasi teroris asing sebagai bagian dari kesepakatan baru. Iran pekan lalu mengatakan hanya ada dua masalah terakhir yang harus diselesaikan sebelum menyetujui pengembalian Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) yang bertujuan mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.

Isu yang beredar, menurut sumber yang dekat dengan pembicaraan, yaitu tuntutan Iran untuk jaminan ekonomi jika pemerintahan AS di masa depan mengubah pendiriannya dan membatalkan perjanjian, seperti yang dilakukan presiden Donald Trump pada 2018, dan Washington menghapus penunjukan resmi kelompok terornya pada Garda Iran. Negosiasi langsung telah berlangsung selama berbulan-bulan di ibu kota Austria, Wina, antara Iran, Tiongkok, Inggris, Prancis, Jerman, dan Rusia. Pembicaraan dengan Amerika Serikat terjadi secara tidak langsung.

Baca juga: Iran masih Cari Satu Awak Kapal Kargo UEA yang Tenggelam

Pada Minggu, Bennett mengecam upaya untuk menandatangani kesepakatan nuklir yang dihidupkan kembali, "Dengan biaya berapa pun." Israel dan Mesir terikat oleh perjanjian damai sejak 1979. Pada 2020, UEA menjadi negara Arab ketiga yang menormalkan hubungan dengan Israel, setelah Yordania yang berdamai dengan Israel pada 1994. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT