17 March 2022, 11:36 WIB

Teater Drama Mariupol yang Tampung Lebih dari 1.000 Warga Sipil Dibom


Nur Aivanni | Internasional

Satellite image ©2022 Maxar Technologies / AFP
 Satellite image ©2022 Maxar Technologies / AFP
Foto udara satelit Maxar menunjukkan Teater Drama Mariupol pada Senin (14/3). Ukraina mengklaim teater itu dibom militer Rusia.

UKRAINA, pada Kamis (17/3), mengklaim bahwa Rusia telah menghancurkan sebuah teater yang menampung lebih dari seribu orang di Kota Mariupol yang terkepung, dengan jumlah korban yang belum diketahui.

"Penjajah menghancurkan Teater Drama. Tempat di mana lebih dari seribu orang mengungsi. Kami tidak akan pernah memaafkan ini," kata Dewan Kota Mariupol dalam sebuah unggahan Telegram.

Wali Kota Mariupol Vadym Boichenko menyebut serangan itu sebagai "tragedi yang mengerikan."

"Orang-orang bersembunyi di sana. Dan ada yang bilang beruntung bisa selamat, tapi sayangnya tidak semua beruntung," katanya dalam pesan video.

Baca jugaMinta Ukraina Netral, Putin Siap Bernegosiasi

"Satu-satunya kata untuk menggambarkan apa yang telah terjadi hari ini adalah genosida, genosida bangsa kita, rakyat Ukraina kita. Tapi saya yakin bahwa akan tiba saatnya kota kita yang indah, Mariupol, akan bangkit dari reruntuhan lagi," tuturnya.

Kota tersebut merupakan target strategis utama bagi Moskow, yang berpotensi menghubungkan pasukan Rusia di Krimea di barat dan Donbas di timur dan memutus akses Ukraina ke Laut Azov.

Selama berhari-hari pasukan Rusia telah membombardir kota itu, memutus aliran listrik, makanan, dan pasokan air.

Para pejabat Ukraina mencap pemboman itu sebagai kejahatan perang.

Kementerian Pertahanan Rusia membantah bahwa pasukannya membom kota itu dan menyatakan bangunan itu hancur dalam ledakan yang dilancarkan oleh batalion nasionalis Azov.

Lebih dari 2.000 orang telah tewas di kota yang terkepung, menurut pihak berwenang Ukraina.

Pada Rabu, pasukan Rusia menargetkan stasiun kereta api di Kota Zaporizhzhia, Ukraina selatan, tempat ribuan pengungsi dari Mariupol berusaha menjauh dari pertempuran. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT