15 March 2022, 10:18 WIB

Iran Sebut Telah Gagalkan Sabotase Israel di Lokasi Pengayaan Uranium


 Nur Aivanni | Internasional

HO / Atomic Energy Organization of Iran / AFP
 HO / Atomic Energy Organization of Iran / AFP
Gedung Fasilitas Konversi Uranium Fordo di Qosm, wilayah utara Iran.

IRAN mengaku menangkap anggota jaringan yang terkait dengan Israel yang mencoba menyabotase lokasi pengayaan Uranium utama, Fordo.

Fordo adalah fasilitas pengayaan uranium bawah tanah yang terletak di luar pusat kota Qom, sekitar 180 kilometer selatan ibu kota Teheran.

Kantor berita Iran, IRNA, pada Senin (14/3), mengatakan para tersangka berencana menyabotase fasilitas Fordo dan sudah ditangkap oleh dinas intelijen Garda Revolusi.

IRNA tidak merinci identitas para tersangka atau pun jumlahnya.

Namun, kantor berita tersebut mengatakan bahwa agen intelijen Israel mencoba mendekati seorang karyawan di Fordo setelah merekrut salah satu tetangganya demi mendapatkan informasi tentang sentrifugal yang digunakan di fasilitas tersebut.

Baca juga: Israel Nyatakan Situs Web Pemerintah Alami Peretasan Besar

Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian melakukan kunjungan ke Moskow untuk pembicaraan nuklir.

Negosiasi Wina untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 dengan berbagai kekuatan dunia akhir-akhir ini membuat kemajuan.

Kesepakatan 2015 memberi Iran keringanan sanksi dengan imbalan pembatasan program nuklirnya.

AS secara sepihak menarik diri dari perjanjian itu pada 2018 di bawah presiden saat itu Donald Trump dan memberlakukan sanksi ekonomi yang keras pada berbagai sektor, termasuk ekspor minyak.

Iran membalas dengan beberapa tindakan, termasuk melanjutkan pengayaan di Fordo.

Selain itu, perkembangan terkait kesepakatan Wina itu terhenti saat Rusia awal bulan ini menuntut jaminan bahwa sanksi Barat yang dijatuhkan setelah invasinya ke Ukraina tidak akan merusak perdagangannya dengan Iran.

Sebelumnya, Iran berulang kali menuduh agen AS atau Israel memata-matai dan berusaha menyabotase program nuklirnya, termasuk dengan membunuh para ilmuwan mereka. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT