09 March 2022, 17:16 WIB

Presiden Israel Menuju Turki untuk Bangun kembali Hubungan


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Daphne Lemelin.
 AFP/Daphne Lemelin.
Presiden Israel Isaac Herzog melambai saat ia berangkat untuk kunjungan resmi ke Turki pada 9 Maret 2022 di landasan Bandara Ben Gurion.

PRESIDEN Israel menuju ke Turki, Rabu (9/3), untuk bertemu dengan mitranya Recep Tayyip Erdogan. Ini kunjungan pertama oleh seorang kepala negara Israel sejak 2007. Kedua negara berusaha untuk memperbaiki hubungan yang retak.

Kunjungan Presiden Isaac Herzog ke Ankara dan Istanbul direncanakan beberapa minggu sebelum Rusia menginvasi Ukraina. Akan tetapi konflik dapat muncul dalam pembicaraan karena Israel dan Turki memainkan peran mediasi dalam beberapa hari terakhir.

Namun masalah bilateral kemungkinan akan mendominasi setelah lebih dari satu dekade pecahnya diplomatik antara negara Yahudi dan mayoritas Muslim Turki, pendukung vokal perjuangan Palestina. Isu-isu tersebut termasuk penjualan gas ke Eropa, topik yang telah memperoleh urgensi tambahan di tengah konflik Ukraina.

Hubungan membeku setelah kematian 10 warga sipil menyusul serangan Israel di kapal Mavi Marmara Turki, bagian dari armada yang mencoba melanggar embargo dengan membawa bantuan ke Jalur Gaza pada 2010. Perjanjian rekonsiliasi 2016 yang melihat kembalinya para duta besar runtuh pada 2018 setelah bentrokan perbatasan dengan Gaza yang menyebabkan puluhan orang Palestina terbunuh.

Turki menarik diplomatnya dan memerintahkan utusan Israel keluar dari negara itu. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, kedua negara tersebut telah mencari pemulihan hubungan.

Kepresidenan Israel secara tradisional merupakan jabatan seremonial. Namun Herzog, seorang veteran dari partai Buruh sayap kiri, telah mengambil peran diplomatik tingkat tinggi. 

Erdogan dan Herzog telah berbicara beberapa kali sejak pelantikan Herzog pada Juli. Para pemimpin Israel waspada terhadap jangkauan Turki.

Baca juga: Israel Batalkan Syarat Tangkap Hamas bagi Turki untuk Rekonsiliasi

"Namun langkah Erdogan untuk mengamankan pembebasan pasangan Israel yang ditangkap di Istanbul pada November atas tuduhan spionase membuktikan titik balik," kata Gallia Lindenstrauss dari Institut Studi Keamanan Nasional Universitas Tel Aviv. "Masalah ini menghasilkan dialog antara pihak Israel dan Turki, dan pada dasarnya membuka peluang untuk meningkatkan hubungan," kata Lindenstrauss, seorang peneliti senior dan pakar Turki. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT