02 March 2022, 16:21 WIB

Khawatir Pembatasan Covid-19, Pemerintah Hong Kong Minta Warga Tidak Panik


Nur Aivanni | Internasional

Peter PARKS / AFP
 Peter PARKS / AFP
Warga mengenakan masker saat berbelanja di toko kebutuhan pokok di sebuah pasar di Hong Kong, Kamis (17/2). 

Pemerintah Hong Kong mengatakan setiap keputusan untuk memberlakukan penguncian covid-19 akan mempertimbangkan status pusat keuangan global dan memastikan kebutuhan dasar dan mendesak penduduk yang cemas yang memadati supermarket minggu ini untuk tidak panik.

Otoritas kesehatan akan melaporkan lebih dari 50.000 infeksi baru pada Rabu (2/3), membuat rekor harian baru, lapor penyiar TVB.

Infeksi telah melonjak sejak awal Februari ketika ada sekitar 100 kasus setiap hari.

Pemerintah mengatakan masih merencanakan dan menyempurnakan skema pengujian covid-19 massal wajib dan akan mengumumkan detailnya ketika telah dikonfirmasi.

"Pemerintah akan menjaga status Hong Kong sebagai pusat keuangan ketika menerapkan skema Compulsory Universal Testing (CUT)", katanya.

"Pengalaman pelaksanaan inisiatif CUT di belahan dunia lain menunjukkan bahwa kebutuhan dasar warga seperti makanan, kebutuhan dan pencarian perawatan medis di luar rumah harus ditangani," terangnya.

Warga, sambungnya, tidak boleh panik atau berebut atau menimbun persediaan yang relevan.

Pernyataan pemerintah yang dirilis pada Selasa malam itu muncul di tengah kebingungan dan kekacauan yang meluas dengan banyak warga yang frustrasi dengan pesan yang beragam dan penyesuaian aturan virus korona yang hampir setiap hari.

Pemimpin Carrie Lam sebelumnya mengatakan bahwa penguncian seluruh kota dan pengujian wajib tidak dipertimbangkan.

Namun, Menteri Kesehatan Sophia Chan mengatakan pada Senin bahwa penguncian belum dikesampingkan. Itu kemudian memicu desas-desus dan serbuan terhadap bahan makanan, produk farmasi, dan layanan perbankan. (Straits Times/OL-12)

 

BERITA TERKAIT