01 March 2022, 16:46 WIB

Khawatir Akan Lockdown Picu Panic Buying di Hong Kong


Nur Aivanni | Internasional

Peter PARKS / AFP
 Peter PARKS / AFP
Ilustrasi

Warga Hong Kong mengosongkan rak-rak toko pada Selasa ketika panic buying terjadi menyusul pesan beragam dari pemerintah mengenai apakah mereka merencanakan penguncian keras ala Tiongkok bulan ini.

Kekacauan terbaru itu terjadi ketika sekolah kedokteran top kota itu memperkirakan hanya di bawah seperempat dari semua penduduk telah terinfeksi covid-19 sejak awal tahun.

Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan orang-orang kesulitan menemukan berbagai barang termasuk daging, sayuran, makanan beku, mie, parasetamol, dan alat pengujian.

"Kami seperti semut yang pulang ke rumah, menyambar sedikit di satu tempat pada satu waktu," kata seorang perempuan, yang bermarga Wu, kepada AFP pada Selasa di sebuah supermarket.

Salah satu kota terpadat di Bumi, Hong Kong memiliki supermarket dengan ruang penyimpanan terbatas.

Apartemen juga merupakan salah satu yang terkecil di dunia, hanya menyisakan sedikit ruang untuk menyimpan persediaan.

Sebagian besar makanan Hong Kong diimpor dari Tiongkok dan krisis pasokan saat ini telah diperburuk oleh pengemudi truk lintas batas yang terinfeksi oleh varian omikron.

Pusat keuangan itu berada dalam cengkeraman wabah virus korona terburuk, yang mencatat puluhan ribu kasus baru setiap hari. Kasus-kasus tersebut membanjiri rumah sakit dan menghancurkan strategi nol covid di kota tersebut.

Lebih dari 190.000 infeksi telah dicatat dalam dua bulan terakhir, dibandingkan dengan hanya 12.000 untuk sisa pandemi.

Pihak berwenang berencana untuk menguji 7,4 juta penduduk bulan ini dan mengisolasi semua infeksi baik di rumah atau di serangkaian kamp yang masih dibangun dengan bantuan Tiongkok.

Beberapa media Hong Kong mengatakan pihak berwenang sedang merencanakan berbagai opsi penguncian untuk periode pengujian, yang mengutip sejumlah sumber.

South China Morning Post mengatakan opsi yang didukung saat ini adalah "penguncian skala besar" selama sembilan hari di mana sebagian besar penduduk hanya akan diizinkan keluar untuk membeli makanan.

Para ahli dari Universitas Hong Kong menerbitkan data pemodelan baru pada Selasa yang memperkirakan jumlah infeksi saat ini mencapai 1,7 juta. (AFP/OL-12)

BERITA TERKAIT