19 February 2022, 10:00 WIB

Trump Bisa Didakwa Terkait Penyerbuan Gedung Capitol


Basuki Eka Purnama | Internasional

AFP/MANDEL NGAN
 AFP/MANDEL NGAN
Mantan Presiden AS Donald Trump

MANTAN Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bisa digugat terkait perannya dalam penyerbuan ke Gedung Capitol oleh para pendukungnya. Hal itu terungkap dalam keputusan pengadilan, Jumat (18/2), yang menegaskan Trump tidak memiliki imunitas dalam kasus tersebut.

Trump menjadi sasaran sejumlah gugatan oleh pejabat KPU dan polisi yang menuding drinya bertanggung jawab secara langsung atas kekerasan yang dilakukan para pendukungnya saat mereka menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.

Seorang hakim di Washington, DC memutuskan bahwa gugatan-gugatan itu bisa diterima dengan alasan aksi Trump pada hari itu bukan aksi resmi seorang presiden dan murni sebagai upaya untuk bertahan di gedung Putih untuk masa jabatan kedua. Karenanya, aksi tersebut tidak masuk dalam kekebalan yang diperuntukan bagi presiden AS.

Baca juga: Donald Trump dan 2 Anaknya Diperiksa Pengadilan New York

"Mencabut kekebalan presiden dari guagatan sipil bukanlah langkah yang mudah. Pengadilan menyadari besarnya pengaruh keputusan ini," ujar hakim Amit Mehta saat membacakan keputusan setebal 112 halaman itu.

Hakim itu juga menyebut pidato Trump di hadapan ribuan pendukungnya yang berkumpul di Washington sebelum penyerbuan itu bisa dianggap sebagai 'hasutan'.

Tidak lama setelah Trump berpidato di hadapan para pendukungnya, mereka menggelar aksi berjalan ke arah Kongres AS dengan ratusan dari mereka kemudian menyerbu masuk ke Gedung Capitol.

Di saat yang sama, Trump, lewat Twitter, mengkritik wakil presidennya, Mike Pence, karena tidak mengeblok pengesahan kemenangan Joe Biden dalam pemilu. Aksi Trump itu dipandang hakim sebagai persetujuan atas aksi penyerbuan ke Gedung Capitol.

Trump, saat ini, menghadapi tiga gugatan terkait aksi penyerbuan ke Gedung Capitol.

Peran Trump dalam penyerbuan itu juga tengah diselidiki komisi DPR AS yang telah mengumpulkan ratusan dokumen, SMS, dan kesaksian, yang sebagian besar berusaha disembunyikan Trump. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT