08 February 2022, 16:54 WIB

13 Juta Orang Hadapi Kelaparan akibat Kekeringan di Tanduk Afrika


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

AFP/Mohamed Abdiwahab.
 AFP/Mohamed Abdiwahab.
Seorang wanita dan seorang anak laki-laki berjalan melewati sekawanan kambing mati di lahan kering dekat Dhahar di Puntland, Somalia.

PROGRAM Pangan Dunia (WFP) memperkirakan 13 juta orang di Kenya, Somalia, dan Ethiopia menghadapi kelaparan parah saat Tanduk Afrika itu mengalami kekeringan terburuk dalam beberapa dekade.

"Tiga musim hujan berturut-turut telah gagal karena wilayah itu mencatat kondisi terkeringnya sejak 1981," kata badan PBB itu. 

Kekeringan telah menghancurkan tanaman dan menyebabkan kematian ternak yang tidak normal,]. Ini memaksa keluarga perdesaan yang bergantung pada penggembalaan dan pertanian meninggalkan rumah mereka.

Pasokan air dan lahan penggembalaan terbatas dan perkiraan curah hujan di bawah rata-rata dalam beberapa bulan mendatang hanya mengancam lebih banyak kesengsaraan, menurut direktur regional WFP di Afrika Timur, Michael Dunford.
"Panen rusak, ternak mati, dan kelaparan meningkat karena kekeringan berulang memengaruhi Tanduk Afrika," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Situasi ini membutuhkan tindakan kemanusiaan segera untuk menghindari terulangnya krisis seperti yang terjadi di Somalia pada 2011, ketika 250.000 meninggal karena kelaparan selama kekeringan berkepanjangan," imbuhnya. Bantuan makanan sedang didistribusikan di daerah yang gersang di Kenya, Ethiopia, dan Somalia dengan tingkat kekurangan gizi tinggi dan sekitar 13 juta orang berisiko mengalami kelaparan parah pada kuartal pertama tahun ini.

Sekitar 5,7 juta warga membutuhkan bantuan makanan di selatan dan tenggara Ethiopia, termasuk setengah juta anak-anak dan ibu yang kekurangan gizi. Di Somalia, jumlah orang yang diklasifikasikan sebagai kelaparan parah diperkirakan meningkat dari 3,5 juta menjadi 4,6 juta pada Mei kecuali jika intervensi mendesak diambil.

Sekitar 2,8 juta orang lain membutuhkan bantuan di tenggara dan utara Kenya. Keadaan darurat kekeringan diumumkan pada September.

WFP mengatakan dana sebesar US$327 juta diperlukan untuk menanggapi kebutuhan mendesak selama enam bulan ke depan dan mendukung komunitas pastoral untuk menjadi lebih tangguh terhadap guncangan iklim yang berulang. Pada 2011, hujan yang gagal menyebabkan tahun terkering sejak 1951 di daerah gersang di Kenya, Somalia, Ethiopia, Djibouti, dan Uganda.

Baca juga: Israel Bebaskan Orang Spanyol yang Dipenjara karena Danai Militan

Para ahli mengatakan peristiwa cuaca ekstrem terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang meningkat karena perubahan iklim. Afrika, yang berkontribusi paling sedikit terhadap pemanasan global, menanggung beban tersebut. (France24/OL-14)

BERITA TERKAIT