31 January 2022, 20:53 WIB

UEA Cegat Rudal Pemberontak Yaman saat Kunjungan Presiden Israel


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Kementerian Pertahanan UEA.
 AFP/Kementerian Pertahanan UEA.
Penghancuran situs peluncuran rudal yang dioperasikan oleh Huthi di Al-Jawf di Yaman utara, Senin (31/1).

UNI Emirat Arab menembak jatuh rudal balistik yang ditembakkan oleh pemberontak Houthi Yaman selama kunjungan presiden Israel, Senin (31/1). Ini merupakan serangan terbaru yang mengguncang pusat keuangan Timur Tengah tersebut.

Tidak ada yang terluka dalam serangan dini hari itu. Serangan tersebut merupakan yang ketiga dalam beberapa minggu berturut-turut di negara Teluk yang kaya yang merupakan bagian dari koalisi pimpinan Saudi dalam memerangi pemberontak Yaman yang didukung Iran itu.

"Pasukan pertahanan udara mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan oleh kelompok teroris Houthi di UEA," kata Kementerian Pertahanan UEA, menurut kantor berita resmi WAM. Dikatakan pecahan puing jatuh di luar daerah berpenduduk tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Kementerian mengatakan pihaknya menanggapi dengan menghancurkan situs peluncuran rudal di wilayah utara Al-Jawf Yaman, merilis rekaman hitam-putih dari ledakan tersebut. Rudal pemberontak terbaru ditembakkan ketika Presiden Israel Isaac Herzog melakukan kunjungan pertama ke UEA, setelah negara-negara tersebut menjalin hubungan diplomatik di bawah Kesepakatan Abraham 2020.

Baca juga: Presiden Israel Lakukan Kunjungan Pertama ke UEA

Herzog, yang bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed Al-Nahyan pada Minggu, mengunjungi situs Expo 2020 Dubai pada Senin dan mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri UEA dan penguasa Dubai, Sheikh Mohammed bin Rashid Al-Maktoum. Herzog, kata kantornya, akan melanjutkan kunjungannya sesuai rencana. Amerika Serikat mengutuk serangan Houthi itu.

"Sementara presiden Israel mengunjungi UEA untuk membangun jembatan dan mempromosikan stabilitas di seluruh kawasan, Houthi terus melancarkan serangan yang mengancam warga sipil," cuit juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price.

Serangkaian serangan 

Serangan hari ini merupakan yang terbaru terhadap Emirates. Tiga pekerja minyak tewas dalam serangan drone dan rudal di Abu Dhabi pada 17 Januari. Ini serangan mematikan pertama di UEA yang diklaim oleh Houthi. 

Selanjutnya dua rudal balistik dicegat di atas ibu kota seminggu kemudian. Serangan-serangan itu, yang mengikuti lonjakan permusuhan di Yaman, telah meningkatkan ketegangan Teluk lebih lanjut pada saat pembicaraan internasional mengenai program nuklir Iran gagal dan mendorong harga minyak ke level tertinggi tujuh tahun.

Baca juga: Badan Bantuan MSF Kecam Koalisi Saudi Serang Penjara Yaman

Houthi yang didukung Iran mulai menyerang kepentingan UEA setelah serangkaian kekalahan di Yaman, yang ditimbulkan oleh milisi Brigade Raksasa yang dilatih UEA. Pada awal Januari, pemberontak menyita kapal berbendera UEA di Laut Merah, dengan mengatakan kapal itu membawa senjata. Klaim ini dibantah oleh Emirates.

Peringatan

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan pemberontak menargetkan Abu Dhabi dengan sejumlah rudal balistik dan Dubai dengan beberapa drone. Dia juga memperingatkan warga dan perusahaan untuk menjauh dari fasilitas vital karena mereka berisiko menjadi sasaran pada periode mendatang.

Kementerian Pertahanan UEA mengatakan pihaknya meledakkan lokasi peluncuran pada pukul 00.50 waktu setempat, tepat 30 menit setelah rudal itu dicegat. Emirates menegaskan kesiapan penuh untuk menghadapi ancaman apa pun dan akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi UEA dari serangan apa pun.

Baca juga: Israel Serang Posisi Hizbullah di Dekat Damaskus Suriah

Pihak berwenang UEA mengatakan bahwa insiden itu tidak berdampak pada lalu lintas udara dengan operasi penerbangan berjalan normal. Seorang pejabat senior Emirat pekan lalu bersumpah bahwa serangan Houthi tidak akan menjadi normal baru bagi negara Teluk, pusat perdagangan, bisnis, dan pariwisata dan pengekspor minyak utama.

UEA menarik pasukannya dari Yaman pada 2019 tetapi tetap menjadi pemain berpengaruh. Negara itu juga menampung pasukan Amerika dan merupakan salah satu pembeli senjata terbesar di dunia. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT