19 January 2022, 15:45 WIB

Israel Hancurkan Rumah Warga Palestina yang Ingin Bakar Diri


Nur Aivanni | Internasional

AFP/Ahmad Gharabli.
 AFP/Ahmad Gharabli.
Pasukan Israel berjaga saat ekskavator membersihkan reruntuhan rumah keluarga Salhiya di lingkungan Sheikh Jarrah, Rabu (19/1).

POLISI Israel menghancurkan rumah satu keluarga Palestina di lingkungan sensitif Jerusalem timur, Sheikh Jarrah, Rabu (19/1) pagi. Seorang fotografer AFP melaporkan hal itu.

Sebelum fajar, menurut video yang di-posting online oleh polisi, petugas Israel pergi ke rumah keluarga Salhiya. Keluarga itu diancam akan digusur sejak 2017 dan pusat kampanye antipenggusuran di wilayah Palestina serta lebih jauh. 

Tak lama kemudian, seorang fotografer AFP menyaksikan pembongkaran rumah tersebut. "Polisi Israel menyelesaikan eksekusi perintah penggusuran bangunan ilegal yang dibangun dalam lahan yang diperuntukkan bagi sekolah anak-anak berkebutuhan khusus dari Jerusalem timur," kata pernyataan polisi.

Dikatakannya, keluarga yang tinggal di bangunan ilegal itu diberi kesempatan yang tak terhitung jumlahnya untuk menyerahkan tanah dengan persetujuan. Seorang juru bicara polisi mengatakan kepada AFP bahwa 18 anggota keluarga dan pendukung ditangkap selama operasi karena melanggar perintah pengadilan, benteng kekerasan, dan mengganggu ketertiban umum. Tidak ada bentrokan terjadi selama insiden itu.

Ketika polisi datang untuk melaksanakan perintah penggusuran pada Senin, anggota keluarga Salhiya naik ke atap gedung dengan tabung gas. Mereka mengancam membakar isi dan diri mereka sendiri jika mereka dipaksa keluar dari rumah mereka.

Delegasi diplomat Eropa juga mengunjungi lokasi tersebut. Sven Kuehn von Burgsdorff, kepala misi Uni Eropa untuk Tepi Barat dan Jalur Gaza, mengatakan kepada AFP pada Senin bahwa di wilayah pendudukan, penggusuran merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional. Polisi mundur saat itu.

Wakil Wali Kota Jerusalem Fleur Hassan-Nahoum mengatakan Selasa bahwa daerah yang diklaim keluarga Salhiya sebagai milik mereka merupakan milik pribadi pemilik Palestina yang kemudian menjualnya ke kota. Pihaknya lalu mengalokasikannya untuk ruang kelas bagi anak-anak Palestina berkebutuhan khusus. Dia mengatakan dia sangat kecewa oleh diplomat Eropa muncul untuk sesuatu yang merupakan masalah kota, masalah bangunan, dan perencanaan, dan berbicara tentang pelanggaran hukum internasional.

Penggusuran yang membayangi keluarga-keluarga lain dari Sheikh Jarrah pada Mei tahun lalu memicu perang 11 hari antara Israel dan faksi-faksi bersenjata Palestina di Gaza. Ratusan warga Palestina menghadapi pengusiran dari rumah-rumah di Sheikh Jarrah dan lingkungan Jerusalem timur lain. 

Situasi seputar ancaman penggusuran bervariasi. Dalam beberapa kasus, orang Yahudi Israel telah mengajukan klaim hukum atas daerah yang mereka katakan diambil secara ilegal selama perang yang menyertai pembentukan Israel pada 1948. Warga Palestina mengatakan rumah mereka dibeli secara legal dari otoritas Yordania yang menguasai Jerusalem timur antara 1948 dan 1967.

Baca juga: Polisi Israel Tangkap Puluhan Warga Palestina pada Dini Hari

Israel merebut Jerusalem timur dalam Perang Enam Hari pada 1967 dan kemudian mencaploknya dalam langkah yang tidak diakui oleh masyarakat internasional. Lebih dari 200.000 pemukim Yahudi sejak itu pindah ke sektor timur kota itu memicu ketegangan dengan warga Palestina yang mengeklaimnya sebagai ibu kota negara masa depan mereka. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT