11 January 2022, 10:24 WIB

AS dan Sekutu Desak Korea Utara untuk Hentikan Tindakan Destabilisasi


 Nur Aivanni | Internasional

Anthony WALLACE / AFP
 Anthony WALLACE / AFP
Monitor di stasiun kereta di Seoul, Korea Selatan, Selasa (11/1) menunjukkan uji coba rudal balistik hipersonik oleh militer Korea Utara.

ENAM negara, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Jepang, pada Senin (10/1) mendesak Korea Utara untuk menghentikan tindakan destabilisasi dalam sebuah pernyataan bersama di PBB, setelah Pyongyang meluncurkan rudal pada pekan lalu.

Prancis, Inggris, Irlandia, dan Albania bergabung dengan seruan itu agar Korea Utara menahan diri dari tindakan destabilisasi lebih lanjut dan terlibat dalam dialog yang bermakna menuju tujuan bersama untuk denuklirisasi menyeluruh.

"Tindakan ini meningkatkan risiko salah perhitungan dan eskalasi dan menimbulkan ancaman signifikan terhadap stabilitas regional," kata duta besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield, yang membacakan pernyataan bersama menjelang pertemuan tertutup Dewan Keamanan mengenai peluncuran rudal tersebut.

"Setiap peluncuran rudal tidak hanya menjadi untuk memajukan kemampuan DPRK (Republik Demokratik Rakyat Korea) sendiri, tetapi untuk memperluas rangkaian senjata yang tersedia untuk diekspor ke klien dan dealer senjata gelapnya di seluruh dunia," tambahnya.

Tidak ada pernyataan bersama yang diperkirakan pada akhir pertemuan tersebut, menurut para diplomat, ketika Rusia dan Tiongkok tidak lagi sejalan dengan Barat atas Korea Utara sejak pengesahan dengan suara bulat pada 2017 atas tiga set sanksi ekonomi terhadap Pyongyang.

Pada Kamis (6/1), Korean Central News Agency (KCNA) yang dikelola pemerintah mengatakan rudal yang ditembakkan pada 5 Januari 2022 membawa "hulu ledak meluncur hipersonik" - uji coba kedua yang dilaporkan setelah uji coba serupa pada September 2021 lalu.

AS dan Jepang termasuk di antara mereka yang dengan cepat mengutuk peluncuran tersebut, dengan menyatakan bahwa itu melanggar beberapa resolusi Dewan Keamanan dan mengancam keamanan global.

Pyongyang berpendapat bahwa pengembangan teknologi senjata diperlukan untuk mempertahankan diri terhadap kemungkinan invasi Amerika. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT