11 January 2022, 10:04 WIB

Korea Utara Lakukan Uji Coba Rudal Kedua Kurang dari Seminggu


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

Anthony WALLACE / AFP
 Anthony WALLACE / AFP
Layar besar di stasiun kereta di Seoul, Korea Selatan, Selasa (11/1) menayangkan uji coba rudal balistik yang dilakukan Korea Utara. 

KOREA Utara diduga menembakkan rudal balistik pada Selasa (11/1), menurut militer Korea Selatan dan penjaga pantai Jepang.

Hal Ini merupakan peluncuran kedua rudal balistik dalam waktu kurang dari seminggu setelah pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mendesak lebih banyak kemajuan militer.

“Peluncuran rudal balistik yang dicurigai terdeteksi sekitar pukul 07.27 dari daerah pedalaman Korea Utara menuju laut di lepas pantai timurnya,” kata Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan dalam sebuah pernyataan.

Proyektil itu tampaknya telah mendarat di luar zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang, lapor kantor berita Kyodo, mengutip sumber-sumber pemerintah di Tokyo.

"Bahwa Korea Utara terus meluncurkan rudal sangat disesalkan," kata Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida kepada wartawan, mencatat bahwa PBB baru saja selesai mengadakan diskusi tentang bagaimana menanggapi peluncuran minggu lalu yang diklaim Korea Utara sebagai rudal hipersonik.

Peluncuran oleh Korea Utara yang bersenjata nuklir menggarisbawahi janji tahun baru Kim Jong Un untuk meningkatkan militer guna melawan situasi internasional yang tidak stabil di tengah pembicaraan yang terhenti dengan Korea Selatan dan Amerika Serikat.

"Militer (Korea Selatan) mempertahankan postur kesiapan sambil memantau dengan cermat tren terkait di bawah kerja sama erat antara (Korea Selatan) dan AS dalam persiapan untuk peluncuran tambahan," kata pernyataan JCS.

Dia menambahkan, Badan intelijen Korea Selatan dan AS sedang melakukan analisis rinci untuk informasi tambahan.

Pekan lalu, pejabat militer Korea Selatan meragukan kemampuan rudal hipersonik yang diklaim Korea Utara telah diluncurkan pada hari Rabu, dengan mengatakan senjata itu tampaknya mewakili kemajuan terbatas atas rudal balistik Pyongyang yang ada.

Peluncuran pada hari Selasa terjadi sehari setelah misi Amerika Serikat untuk PBB, yang diikuti oleh Prancis, Irlandia, Jepang, Inggris, dan Albania, mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk uji coba minggu lalu.

"Tindakan ini meningkatkan risiko salah perhitungan dan eskalasi serta menimbulkan ancaman signifikan bagi stabilitas regional," kata Duta Besar AS Linda Thomas-Greenfield dalam pernyataannya, Senin (10/1).

Tes semacam itu tidak hanya meningkatkan kemampuan Korea Utara, tetapi juga memperluas apa yang dapat ditawarkannya kepada klien dan dealer senjata ilegal di seluruh dunia, tambahnya.

"(Korea Utara) melakukan investasi militer ini dengan mengorbankan kesejahteraan rakyat Korea Utara," tuturnya.

Resolusi Dewan Keamanan PBB melarang semua uji coba rudal balistik dan nuklir oleh Korea Utara, serta telah menjatuhkan sanksi atas program tersebut.

Thomas-Greenfield mengulangi seruan bagi negara-negara di seluruh dunia untuk menegakkan sanksi, dan agar Korea Utara kembali berunding dan meninggalkan rudal dan senjata nuklirnya.

"Tujuan kami tetap denuklirisasi Semenanjung Korea yang lengkap, dapat diverifikasi, dan tidak dapat diubah," katanya.

Departemen Luar Negeri AS tidak segera menanggapi permintaan komentar pada peluncuran Selasa.

Korea Utara mengatakan pihaknya terbuka untuk berbicara, tetapi hanya jika Amerika Serikat dan negara lain membatalkan "kebijakan bermusuhan" seperti sanksi dan latihan militer.

Beberapa pengamat mengharapkan Kim untuk sepenuhnya menyerahkan persenjataan nuklirnya.

Korea Utara berargumen bahwa uji coba misil dan kegiatan militer lainnya adalah untuk pertahanan diri dan serupa dengan yang biasa dilakukan oleh negara lain. (Aiw/Straitstimes/OL-09)

BERITA TERKAIT