04 January 2022, 15:46 WIB

23 Orang Tewas dalam Bentrok Senjata antara Militer dan Pemberontak Kolombia


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

AFP/Luis Acosta
 AFP/Luis Acosta
Kelompok pemberontak FARC yang beroperasi di wilayah hutan dan pegungungan dan perbatasan di Kolombia.

KONFRONTASI kekerasan antara kelompok pemberontak Kolombia di dekat perbatasan negara itu dengan Venezuela telah menewaskan sedikitnya 23 orang.

"Kami telah menemukan 23 orang tewas di daerah pedesaan di departemen Arauca timur laut,” kata Wakil Menteri Pertahanan Kolombia, Jairo Garcia.

Presiden Kolombia Ivan Duque menyalahkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro karena menyembunyikan pemberontak Kolombia di wilayah Venezuela yang jaraknya 2.200 km dari perbatasan.

“Pejuang Tentara Pembebasan Nasional (ELN) dan pembangkang dari Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) yang menolak pakta perdamaian 2016 telah beroperasi sesuka hati di wilayah Venezuela dengan persetujuan dan perlindungan rezim diktator," kata presiden.

Menteri Pertahanan Kolombia Diego Molano mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, pemberontak ELN yang bersekutu dengan faksi mantan pejuang FARC yang dikenal sebagai Segunda Marquetalia bentrok dengan dua kelompok pembangkang lainnya.

"Ini adalah perselisihan yang berasal dari Venezuela dan kemudian berdampak di kota-kota lain di Arauca," katanya.

“Di antara 15 jenazah yang sejauh ini diidentifikasi adalah empat warga Venezuela dan dua orang dengan catatan kriminal di Kolombia karena membawa senjata, salah satunya adalah pemimpin pembangkang yang dikenal dengan alias Flaco (Skinny) Fred," tutur Molano.

Ombudsman Kolombia Carlos Camargo mengatakan puluhan keluarga harus melarikan diri dari pertempuran di kotamadya Tame dan Saravena di departemen Arauca.

Pemerintah setempat telah melaporkan bahwa beberapa komunitas terjebak dalam baku tembak.

Direktur Human Rights Watch Amerika, Jose Miguel Vivanco, mengatakan di Twitter pada Senin bahwa situasi di perbatasan sangat serius.

Kolombia sering menuduh tetangganya menyembunyikan pejuang pemberontak.

Kedua negara memutuskan hubungan diplomatik tak lama setelah Duque mengambil alih sebagai presiden dari Juan Manuel Santos pada Agustus 2018, dua tahun setelah perjanjian damai mengakhiri konflik internal yang hampir enam dekade.

Kekerasan telah meningkat di Kolombia meskipun ada kesepakatan, yang melihat sekitar 13.000 gerilyawan FARC meletakkan senjata dan gerakan itu mengubah dirinya menjadi partai politik minoritas.

Namun para pembangkang terus memerangi kelompok paramiliter, geng narkoba dan pemberontak untuk mengontrol perdagangan dan pasar pertambangan ilegal di negara penghasil kokain terbesar di dunia itu.

Diperkirakan ada sekitar 2.500 pejuang ELN aktif dan lebih dari 5.000 pembangkang FARC yang beroperasi, mayoritas dari mereka adalah anggota baru. (Aiw/France24/OL-09)

BERITA TERKAIT