04 January 2022, 13:55 WIB

Tiongkok akan Terus Memodernisasi Persenjataan Nuklirnya


 Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

AFP
 AFP
Grafik senjata nuklir yang dimiliki beberapa negara. 

TIONGKOK mengatakan akan terus memodernisasi persenjataan nuklirnya serta meminta Amerika Serikat (AS) dan Rusia untuk mengurangi persediaan senjata nuklir mereka, sehari setelah kekuatan global berjanji untuk mencegah penyebaran senjata semacam itu.

Dalam pernyataan bersama yang jarang mengesampingkan meningkatnya ketegangan Barat-Timur, Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Inggris dan Prancis menegaskan kembali tujuan mereka untuk menciptakan dunia yang bebas dari senjata atom dan menghindari konflik nuklir.

Lima kekuatan nuklir juga berkomitmen untuk pelucutan senjata penuh di masa depan dari senjata atom, yang hanya digunakan pada konflik pemboman AS di Jepang pada akhir Perang Dunia II.

Tetapi menyelaraskan retorika tersebut dengan kenyataan tidak akan mudah pada saat ketegangan meningkat antara kekuatan global yang sama.

Ada kekhawatiran global yang berkembang tentang modernisasi militer Tiongkok, terutama setelah angkatan bersenjatanya tahun lalu mengumumkan bahwa mereka telah mengembangkan rudal hipersonik yang dapat terbang dengan lima kali penyebaran suara.

AS juga mengatakan Tiongkok memperluas persenjataan nuklirnya dengan sebanyak 700 hulu ledak pada tahun 2027 dan mungkin 1.000 pada tahun 2030.

Pada hari Selasa (4/1), Tiongkok membela kebijakan senjata nuklirnya dan mengatakan Rusia dan Amerika Serikat yang sejauh ini merupakan kekuatan nuklir terbesar di dunia, harus membuat langkah pertama pada perlucutan senjata.

"AS dan Rusia masih memiliki 90% kepala perang nuklir di Bumi," kata direktur jenderal departemen pengendalian senjata di kementerian luar negeri Tiongkok Fu Cong kepada wartawan.

"Mereka harus mengurangi persenjataan nuklir mereka dengan cara yang tidak dapat diubah dan mengikat secara hukum,” imbuhnya.

Fu membalas tuduhan Washington.

"Mengenai pernyataan yang dibuat oleh AS bahwa Tiongkok sangat meningkatkan kemampuan nuklirnya, ini tidak benar," terang Fu.

"Tiongkok selalu mengadopsi kebijakan tidak ada penggunaan pertama dan kami mempertahankan kemampuan nuklir kami pada tingkat minimal yang diperlukan untuk keamanan nasional kami."

"Tiongkok akan terus memodernisasi persenjataan nuklirnya untuk masalah keandalan dan keamanan," tambahnya.

Hubungan antara Beijing dan Washington sedang tegang karena serangkaian masalah termasuk niat Tiongkok untuk menyatukan kembali Taiwan yang diperintah secara independen, dengan kekerasan jika perlu.

Fu menepis spekulasi tentang kemungkinan penyebaran senjata nuklir di dekat Selat Taiwan.

"Senjata nuklir adalah pencegah utama, itu bukan untuk perang atau pertempuran," tandasnya. (Aiw/France24/OL-09)

BERITA TERKAIT