04 January 2022, 09:29 WIB

PM Haiti Ariel Henry Jadi Sasaran Pembunuhan


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

Valerie Baeriswyl / AFP
 Valerie Baeriswyl / AFP
Perdana Menteri (PM) Haiti Ariel Henry (kanan) menyambut para petinggi kepolisian saat pelantikan kabinet baru di  Port-au-Prince. 

PERDANA Menteri (PM) Haiti Ariel Henry mengungkapkan bahwa dia menjadi sasaran dalam upaya pembunuhan selama perayaan hari nasional akhir pekan.

Arriel Henry secara de facto menjalankan pemerintahan sejak pembunuhan terhadap Presiden Jovenel Moise pada Juli 2021 lalu.

"Sebuah upaya telah dilakukan terhadap saya secara pribadi. Hidup saya berada di garis bidik," kata Henry dalam sebuah wawancara pada Senin (3/1).

Bentrokan antara polisi dan kelompok bersenjata meletus pada hari Sabtu (1/1) selama perayaan resmi di kota Gonaives, sekitar 150 kilometer utara ibukota Port-au-Prince, di mana deklarasi kemerdekaan Haiti ditandatangani lebih dari 200 tahun yang lalu.

Foto-foto yang diberikan oleh Kantor Henry menunjukkan bekas terjangan peluru di kaca depan kendaraan lapis bajanya.

Peristiwa itu terjadi beberapa pekan setelah sekelompok warga dan anggota geng bersenjata di Gonaives dengan keras menyatakan penentangan mereka terhadap kunjungan Henry ke kota mereka.

"Saya tahu saya mengambil risiko," tutur Henry dalam sebuah wawancara telepon.

"Kita tidak bisa membiarkan bandit dari latar belakang apapun, didorong oleh kepentingan keuangan terendah, memeras negara," imbuhnya.

Lama dibelenggu kemiskinan, bencana alam dan kekerasan geng, negara Karibia itu telah berjalan tanpa parlemen yang berfungsi dan dengan peradilan yang lumpuh selama dua tahun, sementara pembunuhan Moise hanya memperburuk krisis.

Pembunuhannya enam bulan lalu di kediaman pribadi presiden hanya menggarisbawahi krisis politik, sosial dan ekonomi yang mendalam di negara Karibia itu selama bertahun-tahun.

Sementara itum beberapa warga Haiti, dua warga AS asal Haiti dan sekitar 15 warga negara Kolombia telah dituduh terlibat dalam pembunuhan dan dipenjarakan di Port-au-Prince sejak musim panas, penyelidikan itu sendiri telah menunjukkan beberapa tanda kemajuan lebih lanjut.

Salah satu tersangka, yang ditangkap pada Oktober di Jamaika, akan dikembalikan ke Kolombia karena kurangnya bukti, kata media Jamaika, Sabtu (1/1).

Penculikan harian

Meningkatnya jangkauan geng kriminal di seluruh negeri merusak harapan untuk meningkatkan kondisi kehidupan warga Haiti biasa, yang menjadi korban penculikan setiap hari oleh kelompok-kelompok kejam.

Dua tahun setelah kepergian petugas polisi PBB terakhir dari negara itu, perdana menteri bersikeras bahwa pasukan Haiti akan dapat memulihkan keamanan.

"Sejauh ini saya tidak pernah meminta pasukan asing," ujar Henry, meskipun dia mengatakan masyarakat internasional harus mendukung polisi negara itu dalam pelatihan dan mungkin peralatan.

"Dengan orang-orang kita, dengan polisi, kita akan ke sana, kita harus ke sana," tambahnya.

Setidaknya 950 penculikan tercatat di Haiti pada tahun 2021, menurut Pusat Analisis dan Penelitian Hak Asasi Manusia, sebuah organisasi yang berbasis di Port-au-Prince.

Oktober 2021 lalu, 17 warga Amerika Utara yang terkait dengan kelompok bantuan Kristen diculik setelah mengunjungi panti asuhan di dekat ibu kota di daerah yang dikendalikan oleh apa yang disebut 400 Mawozo, salah satu geng paling kuat di Haiti. Para sandera terakhir dibebaskan bulan lalu.

Pada bulan April 2021, 10 orang, termasuk dua ulama Prancis, diculik dan ditahan selama 20 hari oleh 400 Mawozo di wilayah yang sama.

Pada bulan Agustus 2021, gempa bumi berkekuatan 7,2 SR menewaskan lebih dari 2.200 orang dan menghancurkan atau merusak berat puluhan ribu rumah di negara yang masih dalam pemulihan dari gempa dahsyat tahun 2010.

Menambah kesengsaraan negara itu, 75 orang tewas bulan lalu dalam sebuah ledakan ketika mencoba menyedot bensin dari sebuah kapal tanker yang jatuh di kota Cap-Haitien terbesar kedua di Haiti. (Aiw/France24/OL-09)

BERITA TERKAIT