03 January 2022, 20:25 WIB

Israel Perintahkan Setop Pembangunan Masjid di Jerusalem Timur


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Hazem Bader.
 AFP/Hazem Bader.
Pembangunan konstruksi baru di zona permukiman jalan al-Shuhada yang dijajah Israel, Hebron, Tepi Barat, Palestina.

ISRAEL memerintahkan penghentian pembangunan masjid di lingkungan Issawiya, Jerusalem Timur, Senin (3/1). Menurut koresponden kantor berita Palestina, Wafa, polisi Israel bersenjata berat menerobos masuk ke lingkungan itu, yang terletak di lereng timur Jerusalem, dan mengirim perintah untuk menghentikan pembangunan Masjid At-Taqwa.

Bagi penduduk Issawiyeh, desa Palestina berpenduduk sekitar 20.000 jiwa, kendaraan polisi Israel telah menjadi kenyataan sehari-hari di jalan-jalan lingkungan tersebut. Begitu oun drone polisi terbang di atas mereka untuk mengawasi setiap gerakan penduduk lingkungan.

Terletak di perbukitan Jerusalem Timur, desa ini memiliki infrastruktur yang buruk. Penduduk terus-menerus diganggu oleh polisi Israel. Siapa pun, termasuk anak-anak, menghadapi risiko penangkapan sewenang-wenang.

Baca juga: Dukungan untuk Tahanan Palestina yang Kritis akibat Mogok Makan

Lampu sorot polisi bersenjata yang bermusuhan menembus rumah warga saat petugas Israel melakukan penggerebekan di tengah malam, mendobrak rumah, dan menangkap warga.

Sementara pihak berwenang Israel mengklaim penggerebekan polisi ke lingkungan itu dimaksudkan untuk menjaga hukum dan ketertiban. Penduduk dan kelompok hak asasi manusia dengan penuh semangat menegaskan kembali bahwa penggerebekan itu sendiri tampaknya dimaksudkan untuk memprovokasi konfrontasi dan telah menciptakan suasana teror. Soalnya, orangtua menjadi takut membiarkan anak-anak mereka bermain di luar.

Kelompok-kelompok hak asasi telah lama menunjukkan bahwa kebijakan diskriminatif Israel di Jerusalem Timur yang meliputi pembongkaran rumah rutin, alokasi diskriminatif izin bangunan, dan pengusiran paksa warga Palestina dari rumah mereka untuk kepentingan pemukiman kolonial Israel bertujuan mengusir warga Palestina dari kota.

Dengan lebih dari 70% keluarga Palestina di Jerusalem Timur yang dijajah hidup di bawah garis kemiskinan. Jika biaya hidup menjadi terlalu mahal, mereka tidak punya banyak pilihan selain pindah ke lingkungan Jerusalem yang padat di sisi lain tembok pemisah Israel atau ke Tepi Barat.

Baca juga: Ancaman Inggris jika Israel Berani Caplok Tepi Barat Palestina

Setelah Israel menduduki Jerusalem Timur pada 1967, warga Palestina tidak diberikan kewarganegaraan Israel, melainkan diberikan izin tinggal permanen. Izin ini dapat dicabut oleh Israel karena berbagai alasan, termasuk loyalitas yang tidak memadai kepada Negara Israel. (OL-14)

BERITA TERKAIT