17 December 2021, 20:48 WIB

Israel Buru Warga Palestina Tersangka Penembakan di Tepi Barat


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Jaafar Ashtiyeh.
 AFP/Jaafar Ashtiyeh.
Pemukim Israel memberi isyarat saat mereka berkendara melewati desa Burqah di Tepi Barat pada 17 Desember 2021.

TENTARA Israel melakukan perburuan pada Jumat (17/12) di Tepi Barat yang diduduki. Ini sehari setelah tentara menyalahkan warga Palestina karena menembak mati seorang pemukim Israel dan melukai dua lainnya.

Tentara, yang menyebut 'teroris' Palestina melakukan serangan itu, telah mengerahkan tiga batalyon tambahan serta pasukan khusus. "Kami sedang dalam perburuan fisik, teknologi, intelijen," kata juru bicara militer Israel Brigadir Jenderal Ran Kochav kepada radio 103FM.

"Kami menangkap sejumlah tersangka tadi malam. Cepat atau lambat kami akan menemukan pelakunya." Korban sebagai mahasiswa agama bernama Yehuda Dimentman, 25, seorang ayah yang sudah menikah dan pemukim Israel.

Penembakan pada Kamis (16/12) merupakan kekerasan terbaru. Ini menyusul serangan Palestina terhadap Israel dan pembunuhan warga Palestina oleh pasukan Israel selama bentrokan.

Israel merebut Tepi Barat dalam Perang Enam Hari 1967. Sejak itu hampir 700.000 orang Yahudi Israel telah pindah ke permukiman Tepi Barat dan Jerusalem timur yang oleh sebagian besar masyarakat internasional dianggap ilegal.

Dimentman ditembak saat berada di mobil ketika meninggalkan pos terdepan ilegal Homesh pada Kamis malam, dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, kata tentara dan petugas medis Israel. Dua orang lain di mobil terluka oleh pecahan kaca, tetapi luka mereka tidak dilaporkan serius.

Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, tetapi beberapa organisasi Palestina, termasuk Hamas, kelompok militan yang menguasai Jalur Gaza, memuji penembakan itu.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengutuk pembunuhan Dimentman, menyebutnya sebagai serangan teroris.

Bentrokan 

Di Burqah, desa dekat tempat serangan pada hari Kamis terjadi, seorang reporter AFP melihat para pemukim melemparkan batu ke rumah-rumah Palestina. Ratusan warga Palestina pun bergerak dan tentara Israel dikerahkan.

Di tempat lain di Tepi Barat utara, polisi Israel mengatakan mereka sedang menyelidiki laporan dari desa Qaryut bahwa seorang pria Palestina telah dirawat di rumah sakit setelah pemukim menyerbu rumahnya.

Pada Jumat, pelayat berkumpul untuk mengingat Dimentman. "Kami akan terus maju dan kami tidak akan berhenti," kata saudaranya Shlomi.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menyebut Dimentman sebagai siswa bijak yang penuh cinta untuk Israel. Ia menambahkan, "Seorang Yahudi dibunuh hanya karena menjadi seorang Yahudi yang tinggal di tanahnya."

Pemimpin pemukim Yossi Dagan menuntut pemerintah menanggapi dengan menyetujui permukiman Homesh, yang dibongkar Israel pada 2005. Meskipun demikian, pemukim sejak itu menjalankan sekolah agama. 

Pekan lalu polisi Israel menangkap seorang gadis Palestina berusia 14 tahun yang dicurigai menikam tetangganya di Israel--seorang ibu berusia 26 tahun yang berjalan dengan anak-anaknya--di lingkungan Sheikh Jarrah di Jerusalem timur yang dicaplok.

Pada Senin, Jamil Al-Kayyal, seorang pria Palestina berusia 31 tahun, tewas dalam bentrokan dengan pasukan Israel di Nablus.

Ketegangan juga meningkat di dalam pemerintahan koalisi yang terbagi secara ideologis atas laporan kekerasan oleh pemukim terhadap warga Palestina.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) bulan lalu mengatakan telah terjadi 410 serangan oleh pemukim terhadap warga Palestina--terhadap individu dan properti--dalam 10 bulan pertama tahun ini.

Baca juga: Satu Warga Israel Tewas, Dua Terluka dalam Penembakan di Tepi Barat

Pada Senin, Menteri Keamanan Publik Israel Omer Bar-Lev mengatakan dia telah membahas kekerasan pemukim dan cara mengurangi ketegangan dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Politik Victoria Nuland. Bennett, mantan pemimpin pemukim, mengatakan kekerasan pemukim tergolong marjinal. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT