17 December 2021, 20:30 WIB

Satu Warga Israel Tewas, Dua Terluka dalam Penembakan di Tepi Barat


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Mosab Shawer.
 AFP/Mosab Shawer.
Pemukim Israel mendirikan struktur timah dan tenda di desa al-Baqa, dekat pemukiman Kiryat Arba, timur Hebron pada 17 Desember 2021.

SEORANG mahasiswa agama Israel tewas dan dua terluka pada Kamis (16/12) ketika mobil mereka ditembaki di dekat permukiman di Tepi Barat yang diduduki Israel. Penembakan itu menyusul serangkaian serangan oleh warga Palestina terhadap warga Israel di Jerusalem dan Tepi Barat.

Letnan Kolonel Angkatan Darat Israel Amnon Shefler mengatakan, "Serangan itu terjadi setelah pukul 19.00 ketika teroris menembak mahasiswa yeshiva dari pinggir jalan." Lebih dari 10 peluru ditembakkan ke kendaraan itu, kata Shefler, menyalahkan warga Palestina.

Tentara mengerahkan tiga batalyon tambahan serta pasukan khusus untuk memburu para penyerang dan mencegah tindakan bermusuhan lain, kata Shefler. Layanan penyelamatan Magen David Adom mengatakan petugas medis tidak berhasil menyelamatkan seorang penumpang di kursi belakang mobil yang tidak sadarkan diri setelah tertembak.

Seorang juru bicara Pusat Medis Meir di Israel mengatakan sedang merawat dua korban lain berusia 20-an. Satu menderita luka ringan di lengannya dan yang kedua luka sedang di dada. 

Shefler mengatakan ketiga pemuda itu berkendara di luar yeshiva dari Homesh. Itu katanya, "Pos terdepan ilegal." Israel merebut Tepi Barat dan Jerusalem timur dari Yordania dalam Perang Enam Hari 1967. Sejak itu, hampir 700.000 orang Israel telah pindah ke permukiman yang dianggap ilegal oleh sebagian besar masyarakat internasional.

Dewan regional Samaria mengatakan dalam suatu pernyataan bahwa korbannya ialah Yehuda Dimentman, seorang ayah yang sudah menikah dan tinggal di permukiman Shavei Shomron dan belajar di yeshiva di Homesh. Penembakan itu terjadi di bagian utara Tepi Barat dekat kota Nablus.

Kantor berita resmi Palestina Wafa mengatakan tentara memblokade pintu masuk ke Nablus setelah serangan itu. Hal tersebut menyebabkan ratusan pengemudi Palestina terjebak di jalan.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengecam serangan mengerikan dalam suatu pernyataan yang dikeluarkan oleh kantornya. "Pasukan keamanan akan segera menangkap teroris dan kami akan memastikan keadilan ditegakkan," tambahnya.

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban teror yang terbunuh di Yudea dan Samaria. Ia menggunakan istilah-istilah Alkitab untuk daerah di Tepi Barat. "Kami akan meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan kami untuk menggagalkan teror di Yudea dan Samaria dan akan terus mengambil tindakan yang diperlukan dalam menghadapi kelompok teror di daerah itu."

Tidak jelas serangan itu terkait dengan kelompok militan atau tidak. Beberapa organisasi Palestina termasuk Hamas, kelompok Islam militan yang menguasai Jalur Gaza, memuji penembakan itu. "Operasi ini membuktikan sekali lagi bahwa rakyat Palestina kami yang heroik di Tepi Barat akan melanjutkan perjuangan sah mereka sampai penjajah diusir dari semua tanah Palestina kami dan para pemukimnya tersapu bersih," kata kelompok itu dalam suatu pernyataan.

Serangkaian serangan 

Minggu lalu, polisi Israel menangkap seorang gadis Palestina berusia 14 tahun karena dicurigai menikam tetangganya, seorang warga Yahudi Israel dari permukiman di tempat yang diperebutkan dalam lingkungan Jerusalem timur.

Serangan pada Kamis itu juga terjadi ketika pemerintah koalisi yang terbagi secara ideologis Israel menghadapi ketegangan internal karena masalah kekerasan yang ditimbulkan oleh pemukim terhadap warga Palestina. Kelompok hak asasi Israel B'tselem bulan lalu melaporkan sekitar 450 serangan oleh pemukim terhadap warga Palestina sejak awal 2020. Dalam banyak insiden kekerasan pemukim, tentara berdiri atau membantu para penyerang, kata kelompok itu.

Pada Senin, Menteri Keamanan Publik Omer Bar-Lev mengatakan dia telah membahas kekerasan pemukim dan cara mengurangi ketegangan di daerah itu dan memperkuat Otoritas Palestina dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Politik Victoria Nuland. Yigal Dilmoni, kepala kelompok payung pemukim Dewan Yesha yang pernah dipimpin Bennett, mengatakan pada Kamis, "Hasutan liar terhadap pemukim di Yudea dan Samaria memberikan angin bagi teroris untuk melakukan serangan sulit ini."

Baca juga: Menjelang Natal, Ekonomi Kota Betlehem Palestina kian Terperosok

Dilmoni mengatakan dalam suatu video bahwa korban ialah seorang pelajar di suatu seminari agama di Homesh, pos terdepan ilegal yang sebelumnya dievakuasi oleh pemerintah Israel. Dia meminta Bennett untuk menyetujui sekolah itu secara surut sebagai tanggapan atas pembunuhan itu.

Orang-orang Palestina memandang Tepi Barat dan Jerusalem timur sebagai bagian dari negara masa depan mereka. Orang-orang Israel garis keras memandang daerah-daerah itu sebagai jantung sejarah Yahudi.

Kelompok garis keras Israel, termasuk Bennett, menentang status negara Palestina. Perdana menteri mengatakan dia lebih memilih untuk meringankan kondisi ekonomi di wilayah Palestina. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT