14 December 2021, 17:23 WIB

Negara Barat Dituduh Selalu Salahkan Iran terkait Kesepakatan Nuklir


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

AFP/Joe Klamar.
 AFP/Joe Klamar.
Ali Bagheri Kani.

IRAN menuduh negara-negara Barat dalam kesepakatan nuklir 2015 terus menyalahkan pihaknya. Ini disampaikan sehari setelah diplomat Eropa mengatakan kesepakatan itu akan segera menjadi cangkang kosong, tanpa kemajuan.

"Beberapa pihak bertahan dalam kebiasaan permainan menyalahkan, alih-alih diplomasi nyata. Kami mengusulkan ide-ide kami lebih awal serta bekerja secara konstruktif dan fleksibel untuk mempersempit kesenjangan," kata negosiator top Iran, Ali Bagheri Kani, di Twitter pada Selasa (14/12).

"Diplomasi ialah jalan dua arah. Jika ada kemauan nyata untuk memperbaiki kesalahan pelakunya, jalan untuk kesepakatan yang cepat dan baik akan diaspal," ujarnya.

Dalam penilaian pesimistis pembicaraan antara Iran dan negara-negara besar di Wina, diplomat dari Inggris, Prancis, dan Jerman memperingatkan pada Senin bahwa waktu hampir habis untuk menyelamatkan pakta yang mereka katakan akan segera menjadi cangkang kosong tanpa kemajuan dalam negosiasi itu.

Pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat dimulai pada April. Pembicaraan berhenti pada Juni setelah pemilihan Ebrahim Raisi. Tim perundingnya telah kembali ke Wina setelah lima bulan dengan sikap tanpa kompromi.

Taruhannya tinggi. Kegagalan dalam negosiasi akan membawa risiko perang regional baru. Israel mendorong kebijakan yang keras jika diplomasi gagal mengendalikan kerja nuklir Iran.

Pada 2019, Iran mulai melanggar pembatasan nuklir di bawah pakta sebagai tanggapan atas keputusan Presiden AS Donald Trump pada 2018 untuk menarik diri dari perjanjian dan menerapkan kembali sanksi keras yang telah menghancurkan ekonomi Iran. "Siapa yang melanggar kesepakatan? Orang Amerika. Siapa yang harus mengimbanginya dan bersikap fleksibel? Orang Amerika tentu saja," kata seorang pejabat senior Iran.

Para ulama Iran percaya bahwa pendekatan keras, yang dipelopori oleh Pemimpin Tertinggi mereka yang sangat anti-Barat Ayatollah Ali Khamenei, dapat memaksa Washington untuk menerima tuntutan maksimalis Teheran, menurut para analis dan diplomat. "Tapi itu bisa menjadi bumerang. Ini masalah yang sangat berbahaya dan sensitif. Kegagalan diplomasi akan berdampak pada semua orang," kata seorang diplomat di Timur Tengah.

Selama putaran ketujuh pembicaraan, yang dimulai pada 29 November, Iran mengabaikan kompromi yang telah dibuat dalam enam sebelumnya, mengantongi yang dibuat oleh orang lain, dan menuntut lebih, kata seorang pejabat senior AS.

Dengan kesenjangan signifikan yang tersisa antara Iran dan Amerika Serikat pada beberapa masalah utama, seperti kecepatan dan ruang lingkup pencabutan sanksi serta bagaimana dan kapan Iran akan membalikkan langkah nuklirnya, kemungkinan kesepakatan tampak kecil. Iran berkeras agar segera menghapus semua sanksi dalam proses yang dapat diverifikasi.

Amerika Serikat mengatakan akan menghapus pembatasan yang tidak konsisten dengan pakta nuklir jika Iran kembali mematuhi kesepakatan itu. Iran juga mencari jaminan bahwa tidak ada pemerintahan AS yang akan mengingkari pakta itu lagi.

Namun Biden tidak bisa menjanjikan hal itu karena kesepakatan nuklir ialah pemahaman politik yang tidak mengikat, bukan perjanjian yang mengikat secara hukum. "Bagaimana kita bisa mempercayai orang Amerika lagi? Bagaimana jika mereka membatalkan kesepakatan lagi? Oleh karena itu pihak yang melanggar kesepakatan harus memberikan jaminan bahwa itu tidak akan pernah terjadi lagi," kata pejabat Iran itu.

Baca juga: AS Siapkan Sanksi Baru untuk Iran Jika Pembicaraan Nuklir Gagal

"Ini masalah mereka, bukan masalah kita untuk dipecahkan. Mereka dapat menemukan solusi dan memberi kami jaminan," tandasnya. (Straitstimes/OL-14)

BERITA TERKAIT