30 November 2021, 10:55 WIB

Bank Dunia Pertimbangan Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Afghanistan


Nur Aivanni | Internasional

AFP/Donald R Allen/Angkatan Udara AS.
 AFP/Donald R Allen/Angkatan Udara AS.
Evakuasi warga Afghanistan di Bandara Internasional Hamid Karzai, Afghanistan. 

Bank Dunia akan mempertimbangkan rencana kompromi untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk Afghanistan dengan mengalihkan dana yang dimaksudkan untuk upaya pembangunan kembali.

Menurut seorang sumber kepada AFP, manajemen bank akan membahas proposal pada pertemuan dewan informal pada Selasa untuk mengarahkan kembali dana dari Afghanistan Reconstruction Trust Fund (ARTF) untuk mendukung upaya kemanusiaan melalui PBB dan lembaga kemanusiaan lainnya dengan kehadiran dan kemampuan logistik di negara itu. Namun, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

PBB telah memperingatkan bahwa sekitar 22 juta warga Afghanistan atau lebih dari separuh negara akan menghadapi kekurangan pangan "akut" di bulan-bulan musim dingin karena efek gabungan dari kekeringan yang disebabkan oleh pemanasan global dan krisis ekonomi yang diperparah oleh pengambilalihan Taliban pada Agustus.

Krisis keuangan memburuk setelah Washington membekukan sekitar $ 10 miliar dari cadangan negara dan semakin memburuk setelah Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) menghentikan akses Afghanistan ke pendanaan.

Langkah Bank Dunia adalah bagian dari kompromi yang dicapai dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pemerintah AS, dan dapat mengalihkan hingga U$500 juta dari ARTF ke kelompok-kelompok kemanusiaan, menurut sebuah laporan oleh kantor berita Reuters yang mengutip orang-orang yang mengetahui rencana tersebut. Itu akan membuka bantuan tetapi melewati Taliban.

Langkah selanjutnya dan waktu rilis, kata sumber itu, akan tergantung pada penyumbang ARTF.

Dana tersebut saat ini memiliki 34 penyumbang dan merupakan sumber dana tunggal terbesar untuk pembangunan Afghanistan, membiayai hingga 30% anggaran sipil Afghanistan, dan mendukung fungsi inti pemerintah, menurut situs web tersebut. (AFP/OL-12)

 

BERITA TERKAIT