02 November 2021, 20:30 WIB

Nasionalisasi Suez Dorong Israel Ingin Kuasai Gaza


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Emmanuel Dunand.
 AFP/Emmanuel Dunand.
Bassam Barbakh berjalan di depan Kastil Barquq abad ke-13 milik Khan Yunis.

PADA 26 Juli 1956, presiden Mesir saat itu Gamal Abdel Nasser menasionalisasi Terusan Suez. Khawatir jalur air bisa terputus, Inggris, Prancis, dan Israel berkolusi untuk menyerang Mesir. 

Israel lantas menguasai Jalur Gaza, Palestina, dan Semenanjung Sinai. Ia menarik diri dari daerah-daerah itu pada Maret 1957 di bawah tekanan AS.

Pada pasar yang ramai sekarang mengelilingi Kastil Barquq Khan Yunis yang berusia berabad-abad, Barbakh menunjuk ke daerah-daerah tempat lusinan mayat ditinggalkan oleh pasukan Israel. Dia menunjukkan kepada AFP foto dua saudara laki-lakinya yang katanya dibunuh selama kerusuhan mengerikan dan menakutkan.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mencatat dalam laporan Desember 1956 bahwa sejumlah besar warga sipil tewas di Khan Yunis pada 3 November. Namun ada konflik dalam laporan yang diberikan mengenai penyebab korban.

Tentara Israel baru-baru ini mengatakan kepada AFP bahwa setelah pengambilalihan Gaza, sekitar 4.000 tentara Mesir bersama pejuang gerilya dan Palestina tetap berada di dalam dengan berpakaian sebagai warga sipil. Operasi Israel untuk mengekang serangan pejuang dan menyita senjata itu memicu bentrokan.

"Ini menyebabkan kerugian bagi warga sipil, karena IDF (tentara) tidak dapat membedakan antara kombatan dan warga sipil yang tidak terlibat," katanya.

Barbakh mengklaim Israel telah menghukum Khan Yunis karena perlawanan. UNRWA juga melaporkan bahwa sejumlah pengungsi tewas oleh tembakan Israel di Rafah, lebih jauh ke selatan, pada 12 November. Tentara Israel menggambarkan mereka yang tewas sebagai 48 perusuh yang mengancam pasukan, mengutip pernyataan perdana menteri saat itu David Ben-Gurion. 

Pada Jumat (29/10), Presiden Israel Isaac Herzog meminta maaf atas insiden yang terjadi pada hari pertama Kampanye Suez, 29 Oktober 1956, ketika 49 orang Arab terbunuh di Kafr Qasim, desa dalam wilayah Israel.

"Pada peringatan 65 tahun salah satu peristiwa paling menyedihkan dalam sejarah negara kita. Atas nama saya dan Negara Israel, saya meminta maaf," kata Herzog.

Baca juga: Mengenang Pendudukan Pertama Israel di Gaza 3 November 1956

Israel mengatakan 231 tentara tewas dalam operasi yang merebut Semenanjung Sinai. Tentara mengatakan setidaknya tujuh warga sipil juga tewas dalam beberapa serangan di dekat perbatasan Gaza pada minggu pertama November 1956. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT