01 November 2021, 16:42 WIB

Peretas Black Shadow Ancam Ungkap Pengguna Situs LBTQ Israel


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Fred Tanneau.
 AFP/Fred Tanneau.
Ilustrasi.

KELOMPOK peretas yang menamakan dirinya Black Shadow pada Minggu (31/10) mengancam akan mengungkapkan rincian pribadi pengguna situs kencan LGBTQ terkemuka Israel. Kelompok yang diduga terkait dengan Iran itu telah membuka 1.000 profil pengguna situs itu.

"Jika kami memiliki US$1 juta di dompet kami dalam 48 jam ke depan, kami tidak akan membocorkan informasi ini dan kami juga tidak akan menjualnya kepada siapa pun," tulis Black Shadow di Telegram. Situs kencan Atraf diretas setelah kelompok itu meretas CyberServe, penyedia layanan internet Israel yang kliennya mencakup perusahaan transportasi umum, museum, dan perusahaan perjalanan.

Pada Sabtu, kelompok itu membeberkan puluhan ribu catatan secara online dari berbagai situs yang telah ditembusnya, termasuk 1.000 profil pengguna dari Atraf. Catatan yang bocor termasuk status HIV pengguna, orientasi seksual, dan kata sandi yang tidak terenkripsi.

Ran Shalhavi, CEO The Aguda yakni Asosiasi untuk Kesetaraan LGBTQ di Israel, mengatakan kepada AFP bahwa organisasinya telah memperpanjang jam hotline daruratnya untuk menangani banjir penelepon yang khawatir.
"Mereka terpapar dan jika masih tertutup, mereka dihadapkan pada situasi yang tidak pernah mereka ketahui sebelumnya," katanya. Asosiasi tersebut, lanjutnya, bekerja dengan kelompok yang berbeda untuk mengurangi dampaknya.

Libi Oz, juru bicara Direktorat Cyber ‚Äč‚ÄčNasional Israel yang didanai pemerintah, mengatakan kantornya memperingatkan CyberServe beberapa kali bahwa perusahaan itu rentan terhadap serangan peretas. AFP tidak dapat menghubungi Atraf untuk memberikan komentar.

Baca juga: Iran Curigai Israel dan AS di Balik Serangan Siber SPBU

CyberServe tidak membalas telepon AFP. Akan tetapi CyberServe mengatakan dalam suatu pernyataan pada Sabtu bahwa mereka telah berurusan dengan peristiwa teror dunia maya Iran. "Sejak kami mendapat peringatan tentang masalah ini dari Direktorat Siber Nasional, bahkan sebelum kejadian, kami bekerja sama sepenuhnya dan memenuhi semua pedoman direktorat," katanya. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT