31 October 2021, 19:15 WIB

Iran Curigai Israel dan AS di Balik Serangan Siber SPBU


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Atta Kenare.
 AFP/Atta Kenare.
Seorang petugas pompa bensin mengisi sepeda motor di ibu kota Iran, Teheran, Rabu 27 Oktober 2021.

SEORANG jenderal Iran mengatakan Israel dan Amerika Serikat kemungkinan berada di belakang serangan dunia maya yang mengganggu distribusi bahan bakar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Serangan pada Selasa (26/10) itu secara teknis menyerupai dua insiden sebelumnya. 

"Pelakunya tidak diragukan lagi ialah musuh kita, yaitu Amerika Serikat dan rezim Zionis," kata Gholamreza Jalali dari Pengawal Revolusi. "Kami telah menganalisis dua insiden, kecelakaan kereta api dan kecelakaan pelabuhan Shahid Rajaei. Kami menemukan bahwa mereka serupa," kata Jalali yang mengepalai unit pertahanan sipil yang bertanggung jawab atas aktivitas dunia maya kepada televisi pemerintah Sabtu (30/10) malam.

Pada Juli, Kementerian Transportasi Iran mengatakan gangguan dunia maya telah memengaruhi sistem komputer dan situs webnya, menurut kantor berita Fars. Pada Mei tahun lalu, Washington Post melaporkan bahwa Israel melakukan serangan siber di pelabuhan Iran Shahid Rajaei di Selat Hormuz, rute strategis untuk pengiriman minyak global.

Serangan dunia maya pada Selasa menyebabkan kemacetan lalu lintas di arteri utama di Teheran. Terjadi antrean panjang di pom bensin sehingga mengganggu arus lalu lintas.

Kementerian perminyakan kemudian membuat stasiun layanan offline sehingga bensin dapat didistribusikan secara manual, menurut pihak berwenang. Presiden Ebrahim Raisi pada Rabu menuduh para pelaku berusaha membuat rakyat Iran menentang kepemimpinan republik Islam itu.

Sekitar 3.200 dari 4.300 stasiun layanan negara itu telah terhubung kembali ke sistem distribusi pusat, kata Perusahaan Distribusi Produk Minyak Nasional, yang dikutip Sabtu oleh kantor berita negara IRNA. Stasiun-stasiun lain juga menyediakan bahan bakar untuk pengendara, tetapi dengan harga yang tidak disubsidi sehingga membuatnya dua kali lebih mahal sekitar lima sen Euro (5-6 sen AS) per liter, kantor berita melaporkan.

Di negara dengan bensin mengalir bebas dan harga terendah di dunia, pengendara membutuhkan kartu digital yang dikeluarkan oleh pihak berwenang. Kartu tersebut memberikan hak kepada pemegangnya untuk mendapatkan sejumlah bensin bulanan dengan tarif bersubsidi. Setelah kuota habis, pemegang kartu membeli lebih mahal dengan tarif pasar.

Baca juga: Peretas yang Disebut terkait Iran Terobos Perusahaan Internet Israel

Sejak 2010, ketika program nuklir Iran terkena virus komputer Stuxnet, Iran dan musuh bebuyutannya Israel dan Amerika Serikat secara teratur saling menuduh melakukan serangan dunia maya. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT