20 October 2021, 21:49 WIB

Didera Isu Korupsi, Ikhwanul Muslimin bakal Terpecah Menjadi Dua?


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Khalil Mazraawi.
 AFP/Khalil Mazraawi.
Pendukung Ikhwanul Muslimin Yordania berunjuk ras di desa Sweimeh, dekat perbatasan Yordania dengan Tepi Barat, untuk mendukung Palestina.

PADA 11 Oktober lalu, penjabat pemimpin tertinggi Ikhwanul Muslimin yang berbasis di London, Ibrahim Mounir, memberhentikan enam pemimpin kelompok itu. Keenamnya ialah Sekretaris Jenderal Ikhwan Mahmoud Hussein, Ketua Asosiasi Ekspatriat Ikhwanul Muslimin Mesir Mohamed Abdel-Wahab, ketua kantor Ikhwan di Turki Hammam Ali Youssef, dan tiga anggota Dewan Syura Ikhwan yakni Medhat Al-Haddad, Mamdouh Mabrouk, dan Ragab Al-Banna. Semua saat ini tinggal di Istanbul.

Mounir menunjuk Osama Suleiman dan Sohaib Abdel-Maqsoud yang berbasis di London sebagai juru bicara kelompok tersebut. Keduanya menggantikan Talaat Fahmi yang berbasis di Turki.

Dalam suatu pernyataan sebagaimana dikutip harian Mesir, Ahram, Mounir menuduh para pemimpin Ikhwanul Muslimin di Turki melakukan korupsi. Kepada saluran TV Ikhwanul Muslimin yang berbasis di London, Al-Hiwar, pada 15 Oktober lalu ia mengatakan bahwa pemecatan itu merupakan bagian dari gerakan korektif internal yang mencakup pembubaran kantor administrasi Ikhwan dan Dewan Syura di Turki.

Baca juga: Mesir Blokir Skema Keuangan Diduga terkait Ikhwanul Muslimin

Keputusan Mounir ditolak oleh kantor Ikhwanul Muslimin di Turki yang memperdebatkan kemungkinan memecat Mounir dari jabatannya sebagai penjabat tertinggi. Sayap yang dipimpin Hussein di Istanbul mengatakan "Keputusan Mounir mewakili kudeta terhadap kelompok itu." Pihaknya dalam proses menunjuk pemandu tertinggi baru yang dapat memperoleh persetujuan dari anggota Ikhwan.

Amr Abdel-Moneim, seorang peneliti gerakan Islam, mengatakan kepada Arabiya TV bahwa telah lama ada pembicaraan tentang korupsi di antara para pemimpin Ikhwanul Muslimin di Turki. "Kantor administrasi Turki kelompok itu menerima sekitar US$1,7 miliar setiap bulan dalam bentuk sumbangan keuangan dari berbagai sumber,” kata Abdel-Moneim. Para anggota muda kelompok itu, termasuk banyak yang melarikan diri dari Mesir menyusul penggulingan rezim Ikhwanul Muslimin pada 2013, menuduh kelompok itu menggunakan uang untuk memperkaya diri sendiri.

Amr Farouk, peneliti lain, mengatakan kepada Sky News TV bahwa konflik antara dua sayap kelompok itu meletus beberapa bulan lalu, ketika Mesir dan Turki mulai bergerak menuju rekonsiliasi. Sebagai bagian dari proses itu, Turki menekan saluran televisi anti-Mesir kelompok itu dan mengusir sejumlah spesialis medianya.

"Anggota muda sekarang menghadapi ancaman dideportasi dari Turki. Mereka mengeluhkan kesulitan yang mereka hadapi dan menyalahkan kepemimpinan kelompok di Istanbul karena tidak melakukan apa pun untuk membantu mereka."

Baca juga: HRW Serukan Sanksi kepada Mesir atas Eksekusi Langgar Hukum

MP Mustafa Bakri, editor mingguan Al-Osbou, percaya Ikhwanul Muslimin sedang menghadapi krisis eksistensial. "Setelah kehilangan kekuasaan di Mesir, Sudan, Tunisia, dan Maroko, kelompok itu menemukan banyak pintu tertutup. Bahkan Turki dan Qatar bergerak untuk mendukung mereka dan berdamai dengan Mesir."

Turki, yang pernah menyambut kelompok itu, kini berusaha mencabutnya, kata Bakri, seraya mencatat bahwa satu-satunya tempat kelompok itu sekarang memiliki tempat berlindung yang aman yakni London.

Bakri berpendapat bahwa krisis dalam Ikhwanul Muslimin berasal dari kurangnya kepemimpinan yang kredibel setelah penangkapan dan rujukan ke pengadilan atas tuduhan terorisme dan spionase kepada Mahmoud Ezzat, pemimpin tertinggi kelompok itu. Pengadilan Kriminal Kairo mengumumkan pekan lalu bahwa mereka akan memberikan putusannya atas kasus Ezzat pada 19 Desember.

Dalam wawancaranya dengan saluran Al-Hiwar, Mounir mengakui penangkapan Ezzat telah membuat Ikhwanul tidak berdaya. "Ini salah satu krisis terburuk yang telah dilalui Ikhwanul Muslimin dan dimulai ketika kelompok itu dicopot dari jabatannya di Mesir dan pemimpin tertingginya, Mohamed Badie, ditangkap."

Farouk mengatakan anggota mereka tidak hanya marah pada korupsi para pemimpin kelompok yang berbasis di Turki, tetapi pada kegagalan mereka untuk mencapai rekonsiliasi apa pun dengan pemerintah di Mesir. Langkah rekonsiliasi diharapkan membantu pembebasan para aktivis yang saat ini menjalani hukuman penjara.

Baca juga: Mesir Bersihkan Masjid dari Buku Salafi dan Ikhwanul Muslimin

Al-Arabiya.net melaporkan pada 16 Oktober bahwa beberapa anggota Ikhwanul Muslimin di Istanbul telah menggunakan media sosial, khususnya Telegram, untuk menuduh para pemimpin menyalahgunakan dana. "Konflik ini dapat menyebabkan sayap Mounir mengambil alih kantor Istanbul atau kantor Istanbul mendeklarasikan kemerdekaannya dari London. Kasus terakhir akan mengakibatkan Ikhwanul terpecah menjadi dua kelompok," pungkas Farouk. (OL-14)

BERITA TERKAIT