19 October 2021, 14:02 WIB

Korsel Sebut Korut Tembakkan Rudal Balistik yang Diluncurkan dari Kapal Selam


Nur Aivanni | Internasional

Antara
 Antara
Ilustrasi

KOREA Utara menembakkan rudal balistik yang diduga diluncurkan dari kapal selam ke laut pada Selasa (19/10). Itu merupakan kemajuan terbaru negara bersenjata nuklir itu dalam teknologi senjata dan yang bisa memberinya kemampuan serangan kedua.

"Rudal balistik jarak pendek yang diduga SLBM ditembakkan dari Sinpo ke laut timur semenanjung," kata Kepala Staf Gabungan Seoul dalam sebuah pernyataan.

Sinpo adalah galangan kapal angkatan laut utama dengan foto-foto satelit yang sebelumnya menunjukkan kapal selam di fasilitas itu. "Intelijen Korea Selatan dan AS sedang menganalisis dengan cermat untuk detail tambahan," tambah pernyataan tersebut.

Pertanyaan kuncinya adalah apakah itu ditembakkan dari kapal selam yang berfungsi, atau platform atau tongkang bawah air.

Kemampuan rudal berbasis kapal selam yang terbukti akan membawa persenjataan Korea Utara ke tingkat yang baru, memungkinkan penyebaran jauh melampaui semenanjung Korea dan kemampuan serangan kedua jika terjadi serangan terhadap pangkalan militernya.

Korea Utara dilarang mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik di bawah resolusi Dewan Keamanan PBB, dan sebagai akibatnya dikenakan berbagai sanksi.

Pyongyang diketahui sedang mengembangkan SLBM dan telah melakukan dua peluncuran bawah air sebelumnya pada tahun 2016 dan 2019.

"Rezim Kim (Jong Un) sedang mengembangkan rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam karena menginginkan penangkal nuklir yang lebih bisa bertahan," kata Leif-Eric Easley, seorang profesor di Ewha University di Seoul.\

Baca juga : Pengawas Departemen Luar Negeri AS Tinjau Akhir Operasi di Afghanistan

"SLBM Korea Utara mungkin jauh dari dikerahkan secara operasional dengan hulu ledak nuklir," katanya memperingatkan. "Tetapi Kim secara politis tidak mampu tampil tertinggal dalam perlombaan senjata regional," ucapnya.

Korea Selatan bulan lalu menguji SLBM pertamanya, menempatkannya di antara kelompok elite negara yang telah menunjukkan teknologi yang telah terbukti, dan juga meluncurkan rudal jelajah supersonik.

Pyongyang mengatakan pihaknya membutuhkan persenjataannya untuk mempertahankan diri dari kemungkinan invasi AS. Pemimpin Kim Jong Un menyalahkan Washington atas ketegangan, menolak pernyataan AS bahwa mereka tidak memiliki niat bermusuhan.

"Alasan mendasar dari provokasi Korea Utara adalah karena AS tidak mengubah posisinya dalam pembicaraan," kata Shin Beom-chul, seorang peneliti di Institut Riset Korea untuk Strategi Nasional, kepada AFP.

"Pyongyang mencoba menunjukkan bahwa mereka dapat melakukan provokasi yang lebih besar," ucapnya.

Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan mengadakan pertemuan darurat atas peluncuran pada Selasa itu dan menyatakan penyesalan yang mendalam. Mereka pun mendesak Pyongyang untuk kembali berdialog.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan dua rudal balistik telah ditembakkan. Dia juga menyebut peluncuran itu "sangat disesalkan". (AFP/OL-2)

BERITA TERKAIT