18 October 2021, 11:20 WIB

Lima Hari Berturut-turut, Inggris Catat Kasus Covid-19 Lebih dari 40.000


Nur Aivanni | Internasional

AFP
 AFP
Seorang warga melintas di baliho mengingatkan kebiasan baru saat pandemi covid-19, d inorthern Inggris.

TERCATAT sebanyak 45.140 orang di Inggris dinyatakan positif covid-19,  ketika negara itu mencatat lebih dari 40.000 kasus covid pada hari kelima berturut-turut, menurut angka resmi yang dirilis pada Minggu waktu setempat.

Itu membuat jumlah total kasus virus korona di negara tersebut menjadi 8.449.165. Negara itu juga melaporkan 57 kematian terkait virus korona lebih lanjut. Jumlah total kematian terkait virus korona di Inggris sekarang mencapai 138.584. Angka-angka itu hanya mencakup kematian orang yang meninggal dalam waktu 28 hari setelah mereka dinyatakan positif covid-19 yang pertama. Saat ini ada 7.086 pasien covid-19 di rumah sakit.

Sementara itu, Kantor Statistik Nasional (ONS) memperkirakan bahwa lonjakan keseluruhan kasus berarti satu dari 60 orang di Inggris telah terinfeksi covid dalam pekan yang berakhir 9 Oktober, dibandingkan dengan satu dari 45 di Wales, satu dari 80 di Skotlandia. dan satu dari 120 di Irlandia Utara.

Baca Juga: Rekor Baru Kasus Harian Covid-19 Rusia, Tembus 34.303

Menurut ONS, sekitar 1 juta orang di seluruh Inggris memiliki covid-19 dalam minggu terakhir, ketika infeksi meningkat di Inggris dan Wales, tetapi turun di Skotlandia.

"Survei ONS terbaru tentang infeksi virus korona menunjukkan gambaran infeksi yang memburuk di sebagian besar Inggris. Sementara vaksin tampaknya telah mengurangi dampak infeksi pada rawat inap dan kematian, data terbaru menunjukkan bahwa tingkat infeksi melonjak," kata Simon Clarke, profesor di Cellular Microbiology, University of Reading.

Lebih dari 85% orang berusia 12 tahun ke atas di Inggris telah mendapatkan vaksin dosis pertama dan lebih dari 78% telah menerima kedua dosis tersebut, menurut angka terbaru.

Untuk mengembalikan kehidupan normal, negara-negara seperti Inggris, Tiongkok, Jerman, Rusia, dan Amerika Serikat telah berpacu dengan waktu untuk meluncurkan vaksin virus korona. (Xinhua/OL-13)

Baca Juga: Tak Akui Rezim Belarus, Duta Besar Prancis Tinggalkan Belarus

BERITA TERKAIT