11 October 2021, 20:00 WIB

Kisah Anak dan Remaja saat Ledakan di Masjid Syiah Afghanistan


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Hoshang Hashimi.
 AFP/Hoshang Hashimi.
Abbas bersama korban bom bunuh diri masjid syiah di Afghanistan.

RUMAH Sakit Daerah Azizullah Safar di Kunduz, Afghanistan, masih merawat 16 pasien pada Minggu (10/10). Salah satu dari mereka yang dirawat di rumah sakit itu baru berusia 10 tahun.

Bocah itu bernama Ali Akhbar yang sedang berbaring di tempat tidur di sebelah ayahnya Mohammad Jawad. Ia mengalami patah kaki dan hanya mengingat saat itu banyak asap dan api.

Di bangsal yang sama terbaring Sayed Jawad, 19, yang menderita luka bakar di sekujur tubuhnya, luka di dada dan perut, luka pecahan peluru, dan patah kaki. Kulit di wajahnya mengelupas dan rambut di kepalanya hangus.

"Saya senang bahwa saya selamat," katanya kepada AFP, "Tetapi banyak teman saya menjadi martir."

Pasien lain, Saber, 16, ingat bertemu teman-temannya di masjid sebelum, "Api menghantam kepala dan wajah kami." Remaja itu mengatakan dia kehilangan beberapa teman dan seorang paman dalam ledakan itu, tetapi percaya hidupnya terselamatkan karena dia memilih untuk berdoa di tengah ruangan.

Baca juga: Trauma Menangani Korban Bom Bunuh Diri Masjid Syiah Afghanistan

"Teman saya pergi ke masjid sedikit lebih awal dari saya dan duduk di sudut kiri," kata Saber. "Saya pergi dan duduk di sebelahnya. Jika bukan karena dia, dan saya duduk di tengah masjid, saya mungkin tidak hidup sekarang." (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT