07 October 2021, 17:28 WIB

Usai Konflik Kapal Selam, Dubes Prancis akan Kembali ke Australia 


 Nur Aivanni | Internasional

Giuseppe CACACE / AFP
 Giuseppe CACACE / AFP
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian saat berpidato di depan Pavilion Prancis pada Expo 2020 di Dubai, Uni Emirat Arab.

PRANCIS mengumumkan pada Rabu (6/10) bahwa mereka akan mengembalikan duta besarnya untuk Australia. Itu mengakhiri protes diplomatik selama berminggu-minggu atas keputusan Canberra yang membatalkan kontrak kapal selam.

Paris menarik utusannya pada 17 September 2021 dan marah atas keputusan Australia yang memutus kontrak pertahanan penting senilai sekitar US$65 miliar demi tawaran AS.

Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian mengatakan kepada parlemen bahwa duta besar sekarang akan kembali ke Canberra dengan "dua tujuan".

Dia mengatakan utusan Jean-Pierre Thebault akan menentukan hubungan Prancis dengan Australia di masa depan dan dengan tegas membela kepentingan Prancis saat kedua pihak merundingkan penyelesaian.

Karena kontrak untuk 12 kapal selam serang Prancis telah ditandatangani, kesepakatan pemutusan itu dapat merugikan Australia ratusan juta dolar.

Rencana kembalinya duta besar tersebut disambut baik oleh pemerintah Australia.

"Jelas kedua negara, Prancis dan Australia, memiliki sejumlah kepentingan bersama, terutama dalam kerja sama kita di kawasan. Jadi, mari berharap kita bisa mengembalikan hubungan itu ke jalurnya," kata Bendahara Josh Frydenberg kepada televisi Channel 9.

Presiden Prancis Emmanuel Macron geram terhadap pengumuman Australia pada 15 September 2021 bahwa mereka secara diam-diam telah menyusun kesepakatan kapal selam bertenaga nuklir baru dengan Amerika Serikat dan Inggris.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian menuduh Australia menikam dari belakang dan Amerika Serikat berkhianat.

Paris kemudian menarik utusannya untuk Australia dan Amerika Serikat atas kehebohan itu.

Tetapi Macron kemudian memerintahkan duta besar untuk Washington untuk kembali ke jabatannya setelah berbicara dengan Presiden AS Joe Biden melalui sambungan telepon. Pembicaraan tersebut membantu meredakan ketegangan.

Prancis, bagaimanapun, menjelaskan bahwa tidak terburu-buru untuk memperbaiki hubungan dengan Australia, dan mempertahankan utusannya untuk Canberra di Paris.

Kemarahan Prancis tidak hanya berasal dari kerugian finansial dari kesepakatan kapal selam tetapi juga hancurnya aliansi dengan Australia yang dilihatnya sebagai landasan strategi keamanan Indo-Pasifiknya. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT