19 August 2021, 16:49 WIB

Hizbullah: Kapal Tanker BBM Iran Berlayar ke Libanon


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Pers Iran.
 AFP/Pers Iran.
Hasan Nasrallah.

KEPALA Hizbullah Hasan Nasrallah, Kamis (19/8), mengatakan kapal tanker akan berangkat dari Iran dalam beberapa jam untuk membawa pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang sangat dibutuhkan ke Libanon. Aksi ini bertentangan dengan aturan sanksi Amerika Serikat.

Nasrallah sebelumnya mengatakan bahwa dia akan beralih ke sekutu gerakannya, Teheran, jika pihak berwenang gagal mengatasi kekurangan bahan bakar yang akut dan meningkat. Ini disebabkan oleh krisis ekonomi yang oleh Bank Dunia digambarkan sebagai salah satu yang terburuk di planet ini sejak pertengahan abad ke-19.

Langkah itu, yang dilarang oleh sanksi AS terhadap industri minyak Iran, dapat menyeret Libanon dalam perang angkatan laut rahasia antara Teheran dan Israel. Nasrallah menantang musuh-musuh Iran untuk menghentikan pengiriman.

Baca juga: Hizbullah Peringatkan tidak Politisasi Penyelidikan Ledakan Pelabuhan Libanon

"Kapal itu, dari saat berlayar dalam beberapa jam mendatang hingga memasuki perairan (Mediterania), akan dianggap sebagai wilayah Libanon," kata Nasrallah dalam pidato yang disiarkan televisi untuk menandai peringatan Asyura oleh Muslim Syiah. "Kepada Amerika dan Israel, saya katakan, itu wilayah Libanon."

Dia mengatakan kapal pertama akan membawa bahan bakar. Ia menambahkan lebih banyak kapal akan menyusul untuk mengatasi kekurangan yang membuat ekonomi Libanon terhenti.

Baik pemerintah Iran maupun Libanon tidak mengkonfirmasi klaim organisasi paramiliter itu. Nasrallah tidak merinci lokasi atau cara pengiriman akan mencapai Libanon dan diturunkan.

Baca juga: Analis Sebut Iran dan Turki bakal Pusing Usai Taliban Kuasai Afghanistan

Sejak Februari tahun ini, Iran dan Israel telah terlibat dalam perang bayangan. Kapal-kapal yang terkait dengan masing-masing negara diserang di perairan sekitar Teluk.

Libanon yang bangkrut tidak dapat lagi membeli impor bahan utama atau menyubsidi barang-barang penting. Hal tersebut menyebabkan kekurangan listrik, bensin, dan obat-obatan yang melumpuhkan dan terkadang mematikan.

Baca juga: Iran Harap Kekalahan AS di Afghanistan Kesempatan untuk Perdamaian Abadi

Tanpa solar yang dibutuhkan untuk pembangkit listrik, Libanon menghadapi pemadaman listrik yang berlangsung hingga 22 jam sehari. Tempat bisnis, rumah sakit, dan kantor pemerintah terpaksa ditutup. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT