26 July 2021, 13:39 WIB

Selandia Baru akan Terima Kembali Warganya yang Terlibat ISIS


Nur Aivanni | Internasional

Mark Tantrum / Visits and Ceremonial Office New Zealand / AFP
 Mark Tantrum / Visits and Ceremonial Office New Zealand / AFP
Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern.

PEMERINTAH Selandia Baru, pada Senin (26/7), mengumumkan akan menerima seorang perempuan yang terkait dengan kelompok ISIS dan dua anaknya, setelah Australia membatalkan kewarganegaraan mantan warga negara ganda itu.

Perempuan kelahiran Selandia Baru itu - yang secara luas diidentifikasi sebagai Suhayra Aden - pindah ke Australia pada usia enam tahun dan berkewarganegaraan ganda sampai Canberra mencabut kewarganegaraannya tahun lalu.

Pada saat itu, Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison mengatakan teroris yang berperang dengan organisasi terorisme kehilangan hak kewarganegaraan. Aden pindah dari Australia ke Suriah pada 2014 dan tinggal di bawah kendali ISIS.

PM Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan membatalkan kewarganegaraannya akan membuat mereka tidak memiliki kewarganegaraan.

"Mereka bukan tanggung jawab Turki, dan dengan Australia menolak menerima keluarga itu, itu membuat mereka menjadi milik kita," katanya dalam sebuah pernyataan pada Senin.

Sebelumnya, Ardern mengecam Canberra karena melepaskan tanggung jawab dalam kasus tersebut. Dia mengatakan bahwa perempuan itu dan anak-anaknya sekarang akan dikembalikan ke Selandia Baru atas permintaan Turki.

Meskipun tidak mengungkapkan perincian tentang pengaturan tersebut, dia mengatakan "kehati-hatian" telah diambil untuk meminimalkan risiko apa pun bagi warga Selandia Baru.

"Perencanaan oleh lembaga dua kali lipat - untuk memastikan semua langkah yang tepat tersedia untuk mengatasi potensi masalah keamanan dan memiliki layanan yang tepat untuk mendukung reintegrasi, dengan fokus khusus pada kesejahteraan anak-anak," katanya.

Aden dan anak-anaknya telah ditahan di Turki sejak melintasi perbatasan dari Suriah pada Februari 2021.

Setelah menahan keluarga tersebut, Kementerian Pertahanan Turki mengidentifikasi dia sebagai "teroris Daesh" dan mengatakan mereka telah ditangkap mencoba masuk secara ilegal. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT