21 June 2021, 16:28 WIB

Myanmar Laporkan Kasus Covid-19 Tertinggi Sejak Kudeta


Nur Aivanni | Internasional

AFP
 AFP
Petugas dengan APD lengkap membawa peti jenazah pasien covid-19 di wilayah Myanmar.

OTORITAS Myanmar melaporkan peningkatan kasus covid-19 harian tertinggi sejak kudeta militer pada Februari lalu. Kekhawatiran terhadap ketahanan sistem kesehatan negara pun semakin meluas. Apalagi, junta militer kerap melakukan kekerasan terhadap tenaga medis.

Lonjakan kasus covid-19 semakin memperparah situasi krisis di Myanmar. Tepatnya setelah militer merebut kekuasaan dengan menahan pemerintahan Aung San Suu Kyi.

Dari laporan terbaru, rumah sakit milik negara hampir tidak berfungsi. Bahkan, krisis kemanusiaan masih terjadi di berbagai daerah, seperti negara bagian Kayah. PBB memperkirakan total 100.000 warga Myanmar telah mengungsi akibat konflik.

Baca juga: Korea Utara Gulirkan Bantuan US$300 Ribu untuk Myanmar

Kekhawatiran terhadap gelombang covid-19 telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Apalagi, varian baru yang lebih menular sudah menyebar di negara tetangga, seperti India dan Thailand. Lebih dari 3.000 orang di Myanmar meninggal akibat terpapar covid-19.

Pada Senin waktu setempat, media pemerintah mengumumkan 546 infeksi baru dan 7 kasus kematian. Laporan itu dianggap sebagai peningkatan tertinggi sejak 1 Februari. Sejauh ini, tidak jelas berapa banyak tes covid-19 yang dilakukan, atau berapa orang yang sudah divaksin.

Baca juga: Hadiri Konferensi Keamanan, Pemimpin Junta Myanmar Tiba di Moskow

Kepala Delegasi Myanmar di Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Joy Singhal menggambarkan lonjakan kasus covid-19 sebagai kondisi yang mengkhawatirkan. "Ini menegaskan kekhawatiran kami bahwa virus menyebar dengan cepat, karena varian yang lebih menular dan berbahaya di berbagai bagian negara," tutur Singhal.

"Rumah sakit dan seluruh sistem kesehatan mau runtuh. Kita perlu meningkatkan upaya pengobatan, pengujian dan pencegahan, agar tidak terjaid tragedi seperti di wilayah Asia Selatan," pungkasnya.

Pekan lalu, media pemerintah melaporkan mantan Kepala Kampanye Vaksinasi Covid-19 di Myanmar, Htar Htar Lin, telah ditangkap militer dan menghadapi beberapa tuduhan, termasuk pengkhianatan tingkat tinggi. Ratusan tenaga medis dicari karena dituding menghasut.(Guardian/OL-11)

 

BERITA TERKAIT