20 June 2021, 08:00 WIB

Jumlah Kematian Akibat Covid-19 di Brasil Tembus 500.000


Nur Aivanni | Internasional

AFP/MICHAEL DANTAS
 AFP/MICHAEL DANTAS
Seorang pekerja yang mengenakan APD dan membawa payung melintas di antara makam pasien covid-19 di Manaus, Brasil.

JUMLAH kematian akibat covid-19 di Brasil, Sabtu (19/6), melewati angka 500.000.

"500.000 nyawa hilang karena pandemi yang mempengaruhi Brasil dan dunia kita," cicit Menteri Kesehatan Brasil Marcelo Queiroga di Twitter.

Pembaruan terbaru dari Kementerian Kesehabatan Brasil mengatakan jumlah korban sekarang 500.800, dengan 2.301 kematian dalam 24 jam terakhir.

Baca juga: Kurang Dosis, Sebagian Negara Miskin Tangguhkan Vaksinasi Covid-19

Para ahli mengatakan angka covid-19 pemerintah meremehkan korban sebenarnya dari krisis kesehatan tersebut.

Pekan ini, rata-rata jumlah kematian harian covid-19 di Brasil melampaui 2.000 untuk pertama kalinya pada 10 Mei.

Brasil, dengan populasi 212 juta orang, menjadi negara kedua setelah Amerika Serikat (AS) yang melampaui 500.000 kematian akibat covid-19.

Raksasa Amerika Selatan itu mengalami gelombang kedua pandemi pada tahun ini, ketika pada satu titik negara itu mencapai 4.000 kematian per hari.

Lebih dari 60% kematian covid-19 di Brasil terjadi sejak awal 2021. Brasil sekarang tampaknya bergulat dengan gelombang ketiga dalam wabahnya, dengan infeksi dan kematian yang melonjak.

Menurut laporan mingguan terbaru dari yayasan penelitian medis Fiocruz, negara itu berada dalam situasi kritis dengan jumlah kematian yang tinggi dan kemungkinan hal-hal memburuk dalam beberapa minggu mendatang saat musim dingin tiba di belahan bumi selatan.

Para ahli khawatir tentang peluncuran kampanye vaksinasi yang lambat di negara itu, penyebaran varian virus yang lebih agresif, dan permusuhan Presiden Jair Bolsonaro terhadap tindakan pencegahan seperti pemakaian masker dan tindakan penguncian.

Queiroga mencicit bahwa dia bekerja tanpa lelah untuk memvaksinasi semua warga Brasil dalam waktu sesingkat mungkin dan mengubah skenario itu yang telah mengganggu negara tersebut selama lebih dari setahun. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT