16 June 2021, 11:52 WIB

Kim Jong-un Beberkan Situasi Pangan di Korea Utara


Nur Aivanni | Internasional

STR / KCNA VIA KNS / AFP
 STR / KCNA VIA KNS / AFP
Pemimpin Korut Kim Jong-un memimpin Pertemuan Puncak Partai Pekerja Korea di Pyongyang, Korut, Senin (15/6).

PEMIMPIN Korea Utara (Korut) Kim Jong-un telah mengakui bahwa situasi pangan Korut pernah "tegang" pada 1990-an. Akibat kelaparan luar biasa ratusan orang meninggal. Demikian lapor media pemerintah pada Rabu (16/6). 

Namun sebagai negara miskin, Korut justru terus mengembangkan senjata nuklir dan program rudal balistik yang berdampak pada sanksi internasional.

Di balik program senjata nuklirnya, negara sekutu Tiongkok itu justru telah lama berjuang untuk mememuhi pangan rakyatnya yang menderita kekurangan pangan yang kronis.

Genap tahun lalu pandemi Covid-19 dan serangkaian badai musim panas dan banjir menambah lebih banyak tekanan pada ekonomi Korut.

Pada pertemuan pleno komite pusat Partai Pekerja Korea, Kim mengatakan perekonomian negaranya membaik tahun ini, dengan produksi industri tumbuh 25% dari tahun sebelumnya, kata kantor berita resmi KCNA pada Rabu (16/6).

Tetapi, tambah pemimpin Kim, ada serangkaian penyimpangan karena sejumlah tantangan.

"Situasi pangan masyarakat sekarang semakin tegang karena sektor pertanian gagal memenuhi rencana produksi biji-bijian karena kerusakan akibat topan tahun lalu," kata Kim.

Serangkaian topan musim panas lalu memicu banjir yang menghancurkan ribuan rumah dan membanjiri lahan pertanian.

Kim menyerukan langkah-langkah untuk meminimalkan dampak bencana alam seperti itu, dengan mengatakan bahwa memastikan panen yang baik adalah "prioritas utama".

Pertemuan itu, kata KCNA, juga membahas sifat pandemi virus korona yang berkepanjangan.

Pyongyang memiliki infrastruktur medis yang buruk dan kekurangan obat-obatan yang kronis. Analis mengatakan wabah virus korona akan mendatangkan malapetaka di negara yang terisolasi itu.

Korut memberlakukan penguncian yang ketat ketika menutup perbatasannya pada Januari tahun lalu untuk menghentikan penyebaran virus dari Tiongkok, tempat virus itu pertama kali muncul sebelum melanda dunia.

Negara tersebut telah lama bersikeras bahwa mereka tidak memiliki kasus Covid-19. Klaim tersebut diragukan oleh para analis. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT