04 June 2021, 08:11 WIB

SpaceX Bawa Cumi-Cumi ke ISS


Basuki Eka Purnama | Internasional

AFP/Jamie S. Foster
 AFP/Jamie S. Foster
Foto yang diberikan oleh NASA menunjukkan anakan cumi-cumi spesies Euprymna scolopes yang dikirim ke ISS.

SEBUAH roket SpaceX yang bertolak ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), Kamis (3/6), membawa sejumlah percobaan ilmiah termasuk cumi-cumi dan mikroorganisme yang disebut tardigrades.

Roket yang disewa NASA itu bertolak dari Florida pada pukul 13.29 waktu setempat. Kapsul Dragon kemudian melepaskan diri dari roket Falcon 9, 12 menit setelah lepas landas dan dijadwalkan berlabuh di ISS pada Sabtu (5/6).

Spesimen anakan spesies cumi-cumi Euprymna scolopes dikirim ke ISS agar para ilmuwan bisa mempelajari efek gravitasi nol pada interaksi antara bakteri dan organisme induk mereka.

Baca juga: AS Janji Dukung Siapa Pun Pemimpin Israel

Sejumlah cumi akan dipaparkan dengan bakteria saat berada di ISS sementara yang lainnya tidak. Setelah 12 jam, spesimen itu akan disimpan hingga mereka kembali ke Bumi dan kemudian dipelajari.

"Binatang, termasuk manusia, bergantung pada mikroba untuk mempertahankan pencernaan serta sistem imunitas yang sehat," ujar Jamie Foster, pemimpin penelitian itu. "Kami belum mengerti secara penuh bagaimana penerbangan luar angkasa mempengaruhi interaksi itu."

Penelitian itu diharapkan bisa membantu ilmuwan di masa depan mengembangkan teknik untuk melindungi kesehatan para astronaut yang menjalani misi luar angkasa berdurasi panjang.

Selain cumi-cumi, roket SpaceX itu juga membawa tardigrades atau yang dikenal sebagai beruang air. organisme mikroskopis yang bisa bertahan dalam kondisi radiasi ekstrem, pans membara, temperatur terendah di Bumi, serta puluhan tahun tanpa makan.

Hewan berkaki delapan itu bisa hidup kembali setelah dikeringkan selama puluhan tahun, bertahan dalam kondisi gravitasi nol di luar angkasa, serta tekanan yang tinggi di Palung Mariana.

"Pernerbangan luar angkasa adalah lingkungan yang menantang bagi organisme, termasuk manusia, yang berevolusi pada kondisi di Bumi," ujar peneliti Thomas Boothny.

"Salah satu yang kami ingin tahu adalah bagaimana tardigrades bisa bertahan hidup dan bahkan bereproduksi di lingkungan ekstrem dan apakah kami bisa mempelajari trik itu dan menerapkannya untuk membantu menjaga keselamatan para astronaut," lanjutnya. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT