27 May 2021, 13:33 WIB

Berharap Covid-19 Mereda, Pendeta India Berdoa pada 'Dewi Virus'


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

SAM PANTHAKY / AFP
 SAM PANTHAKY / AFP
Pendet Hindu dan umatnya berdoa untuk keselamatan dari Covid-19 dengan ritual 'Vaishakh Amavasya' di  Ahmedabad, India.

PARA pendeta Hindu di sebuah kuil India berdoa setiap hari kepada dua dewi virus korona sebagai upaya menjinakkan pandemi karena negara itu sedang berjuang melawan gelombang infeksi baru.

India pada Kamis (27/5) mencatat 211.298 kasus virus korona baru selama 24 jam terakhir, sementara kematian akibat Covid-19 naik 3.847. Beban kasus keseluruhan negara di Asia Selatan itu kini mencapai 27,37 juta, sementara total kematian mencapai 315.235 kasus, menurut data kementerian kesehatan.

Dua berhala "Corona Devi" telah dipasang di kota selatan Coimbatore yang terkena dampak parah dalam pandemi yang telah menewaskan 100.000 orang di seluruh negeri dalam empat minggu terakhir.

Kuil Kamatchipuri Adhinam ditutup untuk jamaah karena tingkat infeksi yang tinggi di kota tersebut, tetapi para pendeta memberi penghormatan di depan dewi, yang satu terbuat dari kayu cendana dan yang lainnya dari batu.

Mereka meninggalkan makanan dan persembahan lainnya, mengucapkan doa yang meminta diakhirinya pandemi dan memandikan berhala dengan air kunyit serta susu.

"Kami pernah memiliki kuil serupa untuk penyakit cacar, cacar air, dan wabah penyakit di masa lalu," kata pengelola kuil Anandbharathi K.

“Kami menyembah virus berupa Dewi dan mendoakannya setiap hari untuk mengurangi dampak penyakit ini,” tambahnya.

Sementara jumlah kasus berkurang di sebagian besar India, negara berpenduduk 1,3 miliar itu dikejutkan oleh parahnya gelombang pandemi terbaru, yang membanjiri rumah sakit dan menyebabkan kekurangan oksigen dan obat-obatan.

"Bahkan dokter tidak dapat menangani besarnya situasi ini. Jadi, kami beralih ke iman dan Tuhan sebagai pilihan terakhir," tutur Anandbharathi.

Para pendeta berencana untuk melanjutkan doa mereka kepada berhala "Corona Devi" selama tujuh minggu lagi. (Aiw/The Straitstimes/OL-09)

BERITA TERKAIT