17 May 2021, 09:56 WIB

PBB: Konflik Israel-Palestina Picu Krisis Keamanan dan Kemanusiaan


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

Anas BABA / AFP
 Anas BABA / AFP
Asap dan api mengepul ke udara dari gedung yang menjadi sasaran serangan udara jet Israel di Kota Gaza, Palestina, Senin (17/5) pagi.

SEKRETARIS Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres memohon untuk segera diakhirinya kekerasan mematikan antara Israel dan Palestina.

Guterres memperingatkan bahwa pertempuran itu dapat menjerumuskan kedua kawasan tersebut ke dalam krisis yang tak tertahankan.

"Pertempuran harus dihentikan. Itu harus segera dihentikan," kata Guterres ketika membuka sesi Dewan Keamanan.

"(Pertikaian) ini memiliki potensi untuk menimbulkan krisis keamanan dan kemanusiaan yang tak tertahankan dan untuk lebih jauh menumbuhkan ekstremisme, tidak hanya di wilayah Palestina yang diduduki dan Israel, tetapi di kawasan secara keseluruhan," lanjutnya.

Guterres mengutuk kekerasan baru pada hari Minggu (16/5) yang menewaskan sekitar 42 warga Palestina, korban tewas terburuk sejak kerusuhan pecah.

"Siklus pertumpahan darah, teror dan kehancuran yang tidak masuk akal ini harus segera dihentikan," tegasnya.

Dia juga menyampaikan kritik terhadap serangan Israel pada hari Sabtu (15/5) yang menghancurkan kantor dua outlet berita utama, Al-Jazeera dan Associated Press di Gaza.

"Jurnalis harus diizinkan bekerja tanpa rasa takut dan pelecehan. Penghancuran kantor media di Gaza sangat memprihatinkan," tuturnya.

Israel melancarkan serangan udaranya setelah Hamas, gerakan militan Islam yang mengendalikan Gaza, mulai menembakkan roket sebagai tanggapan atas tindakan negara Yahudi itu di Jerusalem.

"Roket dan mortir di satu sisi dan pemboman udara dan artileri di sisi lain harus dihentikan. Saya mengimbau semua pihak untuk memperhatikan seruan ini," ucapnya.

Dia juga menyuarakan kekhawatiran atas kebangkitan gerakan ekstremis Yahudi yang mendorong mengusir warga Palestina dari Jerusalem, membantu memicu krisis.

"Di Israel, kekerasan oleh kelompok dan massa yang mirip main hakim sendiri telah menambah dimensi menghebohkan lebih lanjut ke krisis yang sudah memburuk," ujarnya.

"Para pemimpin di semua sisi memiliki tanggung jawab untuk mengekang retorika yang menghasut dan menenangkan ketegangan yang meningkat,” tandasnya. (Aiw/CNA/OL-09)

BERITA TERKAIT