11 May 2021, 08:50 WIB

Tiongkok: Acara PBB Bahas Masalah Xinjiang Merupakan Penghinaan


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie
 ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie
Sejumlah jurnalis asing memotret gedung perkantoran terpadu milik Pemerintah Kota Turban, Daerah Otonomi Xinjiang, Tiongkok.

JURU bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying mengatakan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dijadikan sebagai platform oleh sejumlah negara untuk acara virtual yang membahas tentang penindasan terhadap Muslim Uighur dan minoritas lainnya di Xinjiang, merupakan penghinaan terhadap institusi tersebut.

Tiongkok telah mendesak negara-negara anggota PBB untuk tidak menghadiri acara virtual yang direncanakan oleh Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris itu.

"AS telah bekerja sama dengan beberapa negara, menyalahgunakan sumber daya dan platform PBB, serta mencoreng dan menyerang Tiongkok untuk melayani kepentingannya sendiri," katanya pada konferensi pers harian di Beijing, Senin (10/5).

"Ini adalah penghujatan total terhadap PBB," imbuhnya.

baca juga: Xinjiang

Tiongkok mengatakan, penyelenggara acara virtual di PBB yang akan diadakan pada Rabu, menggunakan masalah hak asasi manusia untuk ikut campur dalam urusan internal Tiongkok.

"Kami percaya negara-negara anggota akan melihat melalui skema politik ini dan memilih untuk menolaknya," kata misi PBB di Tiongkok dalam sebuah pernyataan Senin malam.

"AS dan sponsor bersama lainnya terobsesi dengan memalsukan kebohongan dan berencana menggunakan masalah terkait Xinjiang untuk menahan Tiongkok dan membuat kekacauan di Tiongkok," imbuhnya.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, menjelang pertemuan para menteri luar negeri G7 pekan lalu, mengatakan bahwa Washington tidak berusaha untuk menahan atau menekan Tiongkok. Beberapa negara bagian Barat dan kelompok hak asasi menuduh pihak berwenang di Xinjiang menahan dan menyiksa kaum Uighur di kamp-kamp, yang oleh Amerika Serikat disebut sebagai genosida. Pada Januari, Washington melarang impor kapas dan produk tomat dari Xinjiang atas tuduhan kerja paksa.

Beijing menyangkal tuduhan tersebut dan menggambarkan kamp tersebut sebagai pusat pelatihan kejuruan untuk memerangi ekstremisme agama. (Straitstimes/OL-3)

BERITA TERKAIT