21 April 2021, 21:56 WIB

Malaysia Keluarkan SOP untuk Pasien Indonesia yang Berobat


Mediaindonesia.com | Internasional

digital-strategy.ec.europa.eu
 digital-strategy.ec.europa.eu
Ilustrasi

Direktur Utama (CEO) Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) Mohd Daud Mohd Arif mengatakan penetapan Standar Operasional Prosedur (SOP) pasien Indonesia ke Malaysia selama pandemik Covid-19  bertujuan untuk menjamin keselamatan semua.

Daud mengemukakan hal itu saat perkenalan dirinya sebagai CEO baru MHTC dan buka puasa bersama media di The Majestic Hotel Kuala Lumpur, Rabu (21/4).

"Bagi pelanggan-pelanggan dan pasien Indonesia yang ingin berobat ke Malaysia prosesnya sudah ditetapkan pemerintah dengan SOP yang sangat-sangat aman untuk rakyat Malaysia dan pasien dari Indonesia," katanya.

Dia mengatakan SOP ini menjamin keduanya selamat untuk dimasuki sehingga begitu tiba langsung ke rumah sakit dan menerima perawatan yang dikehendaki.

"Tidak perlu ada yang dirisaukan karena SOP itu sudah dilaksanakan dan sudah ada pasien-pasien yang masuk dan menerima perawatan melalui prosedur yang ketat ini," katanya.

Dia mengharapkan pasien dari Indonesia yang memerlukan perawatan di Malaysia tidak perlu khawatir karena prosedur dilaksanakan secara teratur dan terperinci dengan pengawalan MHTC.

"Kami akan memfasilitasi mulai dari awal hingga akhir dan memastikan pengalaman pasien yang datang nyaman serta mendapatkan perawatan yang baik dan sempurna sebelum pulang ke negara masing-masing," katanya.

Daud mengatakan karantina dilakukan untuk keselamatan pasien juga bukan hanya untuk rakyat Malaysia.

"Kita pastikan juga mereka dikarantina dan kami pastikan mereka selamat dari banyak orang," katanya.

Pada kesempatan yang sama dia mengatakan untuk "travel bubble" dalam skala yang besar untuk beberapa negara termasuk Indonesia sedang dibicarakan oleh Kementrian Luar Negeri Malaysia.

"MHTC termasuk komite yang diajak berdiskusi karena dari sisi wisata medis saja ada pengawasan karena ada beberapa rumah sakit yang membantu kami. Untuk 'travel bubble' lebih luas perlu dibicarakan lebih rapi lagi," katanya. (Ant/OL-12)

BERITA TERKAIT